Sesampainya di sana, Elan yang berada
di ruang UGD hanya dapat kami lihat melalui jendela kecil. Kata dokter yang
baru saja keluar, keadaan Elan sangat kritis karena dia sudah kehilangan darah
banyak, bahkan mungkin tidak dapat selamat. Hanya keajaiban dari doalah yang
dapat menolongnya. Mendengar hal yang baru saja diucap dokter, ibu Elan menangis
bahkan sampai pingsan, seluruh anggota keluarga Elan menangis tak terkecuali
Tania. Dia menangis sejadi-jadinya namun dia berusaha untuk tidak mengeluarkan
suara. Sudah 2 minggu lebih Elan belum bangun, dan selama itu pula Tania yang
selalu menemaninya pagi sampai sore hari. Tepat 3 minggu, Elan membuka matanya,
tapi... “Dok kok gelap ya? Ini malam? Lampunya kok gak nyala? Pemadaman ya?”
ujarnya panik. Dokter langsung memeriksa kedua bola matanya, beliau berkata
kalau Elan mengalami buta total dan tidak dapat disembuhkan kecuali ada
pendonor yang bersedia. Elan merasa terpukul kemudian menitikkan air mata, dia
ingin mati katanya. Tania yang berada disamping Elan berusaha menenangkan, Elan
malah “Lo seneng kan gue buta? Jadinya lo bisa jadi satu – satunya detektif
disekolah kita? Dan lo punya banyak client seperti yang lo harapin?!” kata
Elan. “Gue gak kayak gitu Lan, lo salah. Gue juga sedih.” Ujarnya sambil
menunduk. “Halah, boong lo! Pergi lo dari sini! Dasar muna!” bentak Elan sambil
melempar barang yang ada di sekitarnya. Karena tak tega melihat Elan seperti
itu, Tania pun berpamitan dan pulang kerumahnya diantar kakaknya Elan.
Keesokan harinya saat pulang sekolah,
Tania langsung menuju ke Rumah sakit sambil membawa buket bunga. Dia masuk saat
Elan sedang makan siang dengan ibunya, “Siapa itu? Mega ya?” tanyanya penuh
senyum. Tania mengiyakan, Tania meminta kepada keluarga Elan, agar dia dianggap
sebagai Mega hanya saat didepan Elan saja. Elan sangat senang jika Mega alias
Tania datang berkunjung, Tania juga sangat senang karena Elan dapat tersenyum
bahagia, walau sebenarnya Mega tidak pernah datang berkunjung walau cuma
sekali. 2 bulan Elan hidup dalam dunia yang gelap, suatu ketika Elan curhat ke Mega
alias Tania, kalau dia ingin melihat dunia yang indah ini dan melihat
kecantikan Mega lagi. Tania tersenyum dan dia berkata kalau dia akan berusaha
untuk terus mencari pendonor yang tepat untuk mata Elan. Saat disekolah, Tania
bertemu dengan Mega dan dia menceritakan semua yang terjadi pada Elan. “Kita
harus cepet – cepet cari pendonor buat Elan, kasian dia.” Ujar Tania penuh
kesedihan, “Lo cari aja sendiri, gue mau have fun. Dan satu lagi, tolong jaga
pacar gue sementara waktu saat dia buta ya, soalnya gue gak mau punya pacar
buta. Dan kalau udah pasti gak ada pendonornya, cepet – cepet kabarin ya, biar
gue cari yang lain soalnya dia udah buta dan gak keren lagi.” Ujar Mega sambil
pergi meninggalkan Tania. “Jadi selama ini dia cuma ngejar wajahnya Elan doang,
dia cuma maiin Elan? Dasar kurang ajar! Lan, lo harusnya lihat kayak apa pacar
lo saat lo butuh dia.” Ujar Tnia dalam hati.
Setelah 1 bulan mencari pendonor,
akhirnya ada juga yang mau donorin korneanya dan cocok. Sebelum dibawa di ruang
operasi, Elan meminta doa dari Mega alias Tania, dia juga mengatakan dia sangat
bersyukur karena sebentar akan melihat senyum manis pacarnya itu. Selama proses
operasi, Tania dan keluarga Elan menunggu dengan hati berdebar, mereka berharap
mata pendonor benar – benar cocok untuk Elan. Sudah 7 jam operasi berjalan, dan
Elan dibawa diruang perawatan, dia harus menunggu 3 hari untuk membuka perban
di matanya. Pada hari saat dibuka perbannya, orang pertama yang dicari Elan
adalah Mega, dia bertanya kenapa kok ada Tania dan Mega tidak ada? Tania
menjelaskan kalau Mega baru saja pulang, dia harus pergi ke rumah saudaranya
yang sakit. Elan percaya, tapi Elan malah mengusir Tania karena dia tidak mau
mata barunya melihat wajah Tania. Ibu Elan memarahi Elan, kemudian Tania
berpamitan dan pulang diantar kakak Elan.
Dua minggu setelah bisa melihat lagi,
Elan kembali kesekolah. Dia sudah bisa mulai menjalankan tugas nya seperti
biasanya. Sesampainya digerbang pintu masuk, Mega yang melihat dari jauh
terkejut. Dan langsung lari ke arah Elan. “Ya ampun Elan, kamu kok udah masuk?
Nanti kau kecapekan lo” ujar Mega sambil tersenyum, “Enggak kok, aku harus
kesekolah karena aku kangen banget sama kamu.” Ujar Elan sambil berjalan. Tak
selang berapa lama, Tania datang ke sekolah bersama ibunya, dia mendengar
ucapan Elan tadi dan akhirnya memilih mengambil jalur yang berbeda dengan Elan.
Sepanjang perjalananan Mega bercerita kalo dia setiap hari ke Rumah Sakit, dia
kangen banget, dia juga bilang kalo Tania gak pernah njenguk, main terus
kerjaannya, waktu diajak njenguk malah marah – marah. Elang sangat kesal dengan
Tania, dia gak nyangka sahabatnya sejahat itu. Melihat wajah Elan yang menahan
amarah, Mega tersenyum licik.
Sepulang sekolah, Elan menuju ke
ruangannya. Ruangan itu sangat berdebu dan bau, dia bertanya kepada tukang kebun
sekolah, tukang kebon itu menjawab “ooh ruangan ini biasanya di bersihkan mbak
Tania, tapi entah kenapa setelah kira-kira 2 minggu mbak Tania gak bersih2
lagi.” Elan menuju ke ruangan lagi dan mencoba membersihkan sendiri, “Parah lo Tan, setelah gue operasi lo ngasih
hadiah gue debu? Parah.” Ujar Elan dalam hati. Setelah bersih bersih, Elan
menuju ke kantin. Disana dia melihat Tania dan seorang laki – laki, entah
kenapa akhir akhir ini Tania sering berangkat dan pulang bersama laki – laki
itu, dan itu membuat Elan sedikit cemburu, namun Elan selalu menepis
perasaannya itu.
Keesokan harinya, Elan yang sedang
duduk bercengkrama dengan Mega didatangi oleh Tania. Mood Elan yang tadi sangat
bahagia berubah menjadi sangat kesal. “Hai, Lan. Gimana kabarnya? Selamat ya
udah bisa ngelihat indahnya dunia lagi. Mmm... maaf gak bisa ngebantu
nyelesaiin masalah anak – anak, gue yakin lo pasti bisa ngadepin sendiri,
dibantu sama Mega juga bisa. Gue kesini juga mau bilang sesuatu, gue mau
ngundurin diri jadi partnermu, gue rasa gue udah gak pantes lagi. So, have
fun!” kata Tania sambil tersenyum. Elang yang memperhatikan Tania
sempat terenyuh, tapi dia sinis lagi. “Oh baguslah kalo lo nyadar lo gak pantes,
tenang aja kan ada Mega, Mega selalu ada kok buat gue. Lo ngeledek gue yang
udah bisa ngelihat, dulu lo seneng kan? Sekarang lo pura – pura sedih biar gue
iba? Contoh Mega dong Tan, dia baru kenal gue tapi dia njenguk terus, lha lo?
Kemana aja? Udahlah lo gak usah munafik, jujur ajalah.” Jawab Elan menjatuhkan.
Tania mendengar itu tetap berusaha tegar dan tersenyum, Tania menjawab “Gue
kesini gak mau debat sama lo, gue cuma mau ngingetin, sebelum lo ngomong, lo
harusnya tau sendiri kenyataannya gimana Lan, lo jangan percaya sama omongan orang. Lo harus bisa ngebuktiin sendiri siapa yang selalu ada dan ngerelain
waktunya buat elo.” “Ya yang pasti Mega lah tan, gile lu.” Jawab Elan pd.
“Terserahlah kalo lo percaya itu, tapi coba renungkan Lan.” Ujar Tania sambil
berjalan meninggalkan mereka.
Sorenya, Elan mengantar Mega ke rumah
sakit karena akan menjenguk saudaranya. Ternyata rumah sakit itu rumah sakit
yang Elan tempati waktu dia kecelakaan sampai operasi. Saat melewati ruang informasi, Elan bertemu dengan
dokter yang mengoperasinya dahulu. “Eh Elan, gimana matanya?” ujar pak dokter
sambil menepuk pundak Elan, Elan menjawab “Baik dok, pas kok.”. Melihat Elan
dan dokter berbicara, Mega pergi keruangan sendirian dan mereka berjanji akan
bertemu di depan ruang informasi ini lagi. Setelah Mega tak tampak, dokter itu
bertanya “Itu siapa? Pacar kamu?” “Iya dok, emang kenapa? Cantik kan.” jawab Elan pd. “Iya cantik, loh pacarmu itu
bukannya yang satunya itu to? Siapa ya namanya? Oiya Tania.” “Tania? Bukan itu
dok, itu teman saya, dia gak pernah kesini dok, yang
sering kesini itu Mega, pacar saya, yang tadi itu.” Jawab Elan, “Kamu bilang
cewek yang tadi sering kesini? Saya gak pernah lihat tuh, yang saya tau yang
selalu kesini itu ya Tania.” “Hah? Beneran dok? Jangan bercanda deh dok” “Iya, mmm.. saya bisa
ceritakan apa yang mungkin belum kamu ketahui, itupun jika kamu bersedia, bagaimana? "Beneran gapapa dok?" tanya Elan, "Iya gapapa, mumpung saya break makan siang juga, tapi jangan disini, disana saja.” Ajak dokter itu sambil menunjuk sebuah bangku yang ada di taman.
BERSAMBUNG...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar