Minggu, 01 Juli 2018

Cerbung "Mata Elang" : Part 2, Sadarkah Kau

...

Sesampainya di sana, Elan yang berada di ruang UGD hanya dapat kami lihat melalui jendela kecil. Kata dokter yang baru saja keluar, keadaan Elan sangat kritis karena dia sudah kehilangan darah banyak, bahkan mungkin tidak dapat selamat. Hanya keajaiban dari doalah yang dapat menolongnya. Mendengar hal yang baru saja diucap dokter, ibu Elan menangis bahkan sampai pingsan, seluruh anggota keluarga Elan menangis tak terkecuali Tania. Dia menangis sejadi-jadinya namun dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Sudah 2 minggu lebih Elan belum bangun, dan selama itu pula Tania yang selalu menemaninya pagi sampai sore hari. Tepat 3 minggu, Elan membuka matanya, tapi... “Dok kok gelap ya? Ini malam? Lampunya kok gak nyala? Pemadaman ya?” ujarnya panik. Dokter langsung memeriksa kedua bola matanya, beliau berkata kalau Elan mengalami buta total dan tidak dapat disembuhkan kecuali ada pendonor yang bersedia. Elan merasa terpukul kemudian menitikkan air mata, dia ingin mati katanya. Tania yang berada disamping Elan berusaha menenangkan, Elan malah “Lo seneng kan gue buta? Jadinya lo bisa jadi satu – satunya detektif disekolah kita? Dan lo punya banyak client seperti yang lo harapin?!” kata Elan. “Gue gak kayak gitu Lan, lo salah. Gue juga sedih.” Ujarnya sambil menunduk. “Halah, boong lo! Pergi lo dari sini! Dasar muna!” bentak Elan sambil melempar barang yang ada di sekitarnya. Karena tak tega melihat Elan seperti itu, Tania pun berpamitan dan pulang kerumahnya diantar kakaknya Elan.
Keesokan harinya saat pulang sekolah, Tania langsung menuju ke Rumah sakit sambil membawa buket bunga. Dia masuk saat Elan sedang makan siang dengan ibunya, “Siapa itu? Mega ya?” tanyanya penuh senyum. Tania mengiyakan, Tania meminta kepada keluarga Elan, agar dia dianggap sebagai Mega hanya saat didepan Elan saja. Elan sangat senang jika Mega alias Tania datang berkunjung, Tania juga sangat senang karena Elan dapat tersenyum bahagia, walau sebenarnya Mega tidak pernah datang berkunjung walau cuma sekali. 2 bulan Elan hidup dalam dunia yang gelap, suatu ketika Elan curhat ke Mega alias Tania, kalau dia ingin melihat dunia yang indah ini dan melihat kecantikan Mega lagi. Tania tersenyum dan dia berkata kalau dia akan berusaha untuk terus mencari pendonor yang tepat untuk mata Elan. Saat disekolah, Tania bertemu dengan Mega dan dia menceritakan semua yang terjadi pada Elan. “Kita harus cepet – cepet cari pendonor buat Elan, kasian dia.” Ujar Tania penuh kesedihan, “Lo cari aja sendiri, gue mau have fun. Dan satu lagi, tolong jaga pacar gue sementara waktu saat dia buta ya, soalnya gue gak mau punya pacar buta. Dan kalau udah pasti gak ada pendonornya, cepet – cepet kabarin ya, biar gue cari yang lain soalnya dia udah buta dan gak keren lagi.” Ujar Mega sambil pergi meninggalkan Tania. “Jadi selama ini dia cuma ngejar wajahnya Elan doang, dia cuma maiin Elan? Dasar kurang ajar! Lan, lo harusnya lihat kayak apa pacar lo saat lo butuh dia.” Ujar Tnia dalam hati.
Setelah 1 bulan mencari pendonor, akhirnya ada juga yang mau donorin korneanya dan cocok. Sebelum dibawa di ruang operasi, Elan meminta doa dari Mega alias Tania, dia juga mengatakan dia sangat bersyukur karena sebentar akan melihat senyum manis pacarnya itu. Selama proses operasi, Tania dan keluarga Elan menunggu dengan hati berdebar, mereka berharap mata pendonor benar – benar cocok untuk Elan. Sudah 7 jam operasi berjalan, dan Elan dibawa diruang perawatan, dia harus menunggu 3 hari untuk membuka perban di matanya. Pada hari saat dibuka perbannya, orang pertama yang dicari Elan adalah Mega, dia bertanya kenapa kok ada Tania dan Mega tidak ada? Tania menjelaskan kalau Mega baru saja pulang, dia harus pergi ke rumah saudaranya yang sakit. Elan percaya, tapi Elan malah mengusir Tania karena dia tidak mau mata barunya melihat wajah Tania. Ibu Elan memarahi Elan, kemudian Tania berpamitan dan pulang diantar kakak Elan.
Dua minggu setelah bisa melihat lagi, Elan kembali kesekolah. Dia sudah bisa mulai menjalankan tugas nya seperti biasanya. Sesampainya digerbang pintu masuk, Mega yang melihat dari jauh terkejut. Dan langsung lari ke arah Elan. “Ya ampun Elan, kamu kok udah masuk? Nanti kau kecapekan lo” ujar Mega sambil tersenyum, “Enggak kok, aku harus kesekolah karena aku kangen banget sama kamu.” Ujar Elan sambil berjalan. Tak selang berapa lama, Tania datang ke sekolah bersama ibunya, dia mendengar ucapan Elan tadi dan akhirnya memilih mengambil jalur yang berbeda dengan Elan. Sepanjang perjalananan Mega bercerita kalo dia setiap hari ke Rumah Sakit, dia kangen banget, dia juga bilang kalo Tania gak pernah njenguk, main terus kerjaannya, waktu diajak njenguk malah marah – marah. Elang sangat kesal dengan Tania, dia gak nyangka sahabatnya sejahat itu. Melihat wajah Elan yang menahan amarah, Mega tersenyum licik.
Sepulang sekolah, Elan menuju ke ruangannya. Ruangan itu sangat berdebu dan bau, dia bertanya kepada tukang kebun sekolah, tukang kebon itu menjawab “ooh ruangan ini biasanya di bersihkan mbak Tania, tapi entah kenapa setelah kira-kira 2 minggu mbak Tania gak bersih2 lagi.” Elan menuju ke ruangan lagi dan mencoba membersihkan sendiri,  “Parah lo Tan, setelah gue operasi lo ngasih hadiah gue debu? Parah.” Ujar Elan dalam hati. Setelah bersih bersih, Elan menuju ke kantin. Disana dia melihat Tania dan seorang laki – laki, entah kenapa akhir akhir ini Tania sering berangkat dan pulang bersama laki – laki itu, dan itu membuat Elan sedikit cemburu, namun Elan selalu menepis perasaannya itu.
Keesokan harinya, Elan yang sedang duduk bercengkrama dengan Mega didatangi oleh Tania. Mood Elan yang tadi sangat bahagia berubah menjadi sangat kesal. “Hai, Lan. Gimana kabarnya? Selamat ya udah bisa ngelihat indahnya dunia lagi. Mmm... maaf gak bisa ngebantu nyelesaiin masalah anak – anak, gue yakin lo pasti bisa ngadepin sendiri, dibantu sama Mega juga bisa. Gue kesini juga mau bilang sesuatu, gue mau ngundurin diri jadi partnermu, gue rasa gue udah gak pantes lagi. So, have fun!” kata Tania sambil tersenyum. Elang yang memperhatikan Tania sempat terenyuh, tapi dia sinis lagi. “Oh baguslah kalo lo nyadar lo gak pantes, tenang aja kan ada Mega, Mega selalu ada kok buat gue. Lo ngeledek gue yang udah bisa ngelihat, dulu lo seneng kan? Sekarang lo pura – pura sedih biar gue iba? Contoh Mega dong Tan, dia baru kenal gue tapi dia njenguk terus, lha lo? Kemana aja? Udahlah lo gak usah munafik, jujur ajalah.” Jawab Elan menjatuhkan. Tania mendengar itu tetap berusaha tegar dan tersenyum, Tania menjawab “Gue kesini gak mau debat sama lo, gue cuma mau ngingetin, sebelum lo ngomong, lo harusnya tau sendiri kenyataannya gimana Lan, lo jangan percaya sama omongan orang. Lo harus bisa ngebuktiin sendiri siapa yang selalu ada dan ngerelain waktunya buat elo.” “Ya yang pasti Mega lah tan, gile lu.” Jawab Elan pd. “Terserahlah kalo lo percaya itu, tapi coba renungkan Lan.” Ujar Tania sambil berjalan meninggalkan mereka.
Sorenya, Elan mengantar Mega ke rumah sakit karena akan menjenguk saudaranya. Ternyata rumah sakit itu rumah sakit yang Elan tempati waktu dia kecelakaan sampai operasi. Saat melewati ruang informasi, Elan bertemu dengan dokter yang mengoperasinya dahulu. “Eh Elan, gimana matanya?” ujar pak dokter sambil menepuk pundak Elan, Elan menjawab “Baik dok, pas kok.”. Melihat Elan dan dokter berbicara, Mega pergi keruangan sendirian dan mereka berjanji akan bertemu di depan ruang informasi ini lagi. Setelah Mega tak tampak, dokter itu bertanya “Itu siapa? Pacar kamu?” “Iya dok, emang kenapa? Cantik kan.”  jawab Elan pd. “Iya cantik, loh pacarmu itu bukannya yang satunya itu to? Siapa ya namanya? Oiya Tania.” “Tania? Bukan itu dok, itu teman saya, dia gak pernah kesini dok, yang sering kesini itu Mega, pacar saya, yang tadi itu.” Jawab Elan, “Kamu bilang cewek yang tadi sering kesini? Saya gak pernah lihat tuh, yang saya tau yang selalu kesini itu ya Tania.” “Hah? Beneran dok? Jangan bercanda deh dok” “Iya, mmm.. saya bisa ceritakan apa yang mungkin belum kamu ketahui, itupun jika kamu bersedia, bagaimana? "Beneran gapapa dok?" tanya Elan, "Iya gapapa, mumpung saya break makan siang juga, tapi jangan disini, disana saja.” Ajak dokter itu sambil menunjuk sebuah bangku yang ada di taman.




BERSAMBUNG...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar