Selasa, 21 Juli 2020

Puisi : "Jangan Kembali"


Dia datang menyerang

Tanpa izin tanpa salam

Hadirnya tak bisa diduga

Menyusup ke setiap raga

Tua muda bisa dia hancurkan

Kini dialah sang penguasa

Semua tunduk dengannya

Dulu tertawa sekarang merana

Perlahan semua mundur

Perlahan semua memohon ampun

Perlahan semua menutup pintu

Physical distancing1 katanya

#dirumahaja semboyannya

Mungkin manusialah penyebabnya

Jauh dari bersih jauh dari peduli

Mungkin juga bentuk peringatan-Nya

Angin tertawa melihat tingkah kita

Fajar hingga senja hanya terdiam

Tiada bersua dengan kawan

Menatap ponsel menjadi kebiasaan

Jari jemari rindu akan sentuhan

Kini hanya satu doa terucap

Pergilah Corona!

Jangan pernah singgah, lagi


1 menjaga jarak antar individu secara fisik, tapi bukan secara sosial.



nb.

- Puisi ini dibuat saat adanya pandemi covid-19

- Mengikuti Lomba Cipta Puisi di Event Hunter Indonesia pada April 2020 dan masuk 100 besar

Puisi : "Dua Sayap di Punggungku"

Pagi ini aku terbangun karena langkah kakimu

Tergesa-gesa menjalankan semua aktivitas

Kesana kemari ku perhatikan

Tanpa ada rasa letih terlukis di wajahmu

Ibu

Kuatkanlah hatimu

 

Siang ini tanpa sengaja ku melihatmu

Mengusap peluh yang bercucuran di wajahmu

Bekerja siang malam tanpa mengeluh

Demi anak dan istrimu

Ayah

Jagalah kesehatanmu

 

Malam ini aku mendengar suara lirih

Sepasang suara menyeru nama-Mu

Merendahkan diri di hadapan-Mu

Menengadahkan tangan meminta pertolongan-Mu

Oh Tuhan, tolong jaga mereka

Merekalah sayapku

Sayap menuju surga-Mu