Sabtu, 24 Maret 2018

Cerbung "Mata Elang" : Part 1, Awalnya Begini


Mata Elang

“Teeetttt... teeeetttt....” bel pulang berbunyi, semua anak langsung berhamburan keluar kelas. Terlihat seorang anak perempuan sedang terburu – buru memasukkan semua bukunya ke dalam tas coklatnya, mungkin ada yang sedang menunggunya. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, namun terhenti di depan pintu. “Ya, buruan Tania! Lelet banget! Nanti keburu rame tempatnya.” ujar laki – laki yang sedang berdiri di depan pintu itu. “Iya iya bentar.” jawab Tania. Lima menit kemudian Tania keluar dari kelas, tapi dia tidak menemukan laki-laki tadi. Tania mencari di sekitar sekolah dan menemukan laki – laki tersebut sedang duduk sambil memakai headphonenya di tepi lapangan basket. “Hei! Kata lo mau cepet, malah bengong disini.” ucap Tania. “Habis lo lama banget.” jawabnya dengan ekspresi cemberut. “Iya iya maaf, maaf ya Elaaaan...” kata Tania dengan senyum lebar. 
Sesampainya di kedai es krim, mereka langsung menuju kasir untuk memesan lalu duduk di bangku kosong yang ada di pojokan. Jika orang yang belum mengenal mereka, mungkin akan menganggap mereka adalah pasangan kekasih, tapi faktanya mereka itu bersahabat sejak SD. “Habis ini lo mau kemana?” tanya Elan. “Gak kemana mana.” Jawab Tania sambil menyendok es krimnya. “Oohh, mmm... kalau gue ajak mau enggak? Kalau ga mau juga gapapa.” tanya Elan. Mendengar itu Tania senyum – senyum sendiri, “Mmm gimana ya? Yaudah deh gak papa, gue juga gak ada acara. Emang mau kemana?” . Elan menunjuk taman kota. Di taman kota mereka duduk di bangku yang berada dibawah pohon yang sangat rindang. Baru saja Elan membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, handphone Tania berdering. Tania langsung mengangkatnya, ternyata telepon itu dari pak kepsek SMA mereka. Pak kepsek ingin mereka datang, karena FD pak kepsek hilang, apalagi disitu terdapat data – data untuk UAS. Mendengar itu, Tania mengajak Elan untuk ke sekolah lagi. 
Elan dan Thania tergabung dalam semacam tim detektif. Mereka berdua sangat senang saat diterima, hal ini karena mereka berdua bermimpi ingin menjadi detektif dimasa yang akan datang. Tania dan Elan adalah pasangan detektif yang serasi, mereka memiliki kelebihan di mata mereka. Elan yang memiliki mata yang sangat tajam dan jeli dalam menemukan sesuatu seperti Burung Elang, dia sering disebut Si Mata Elang. Sedangkan Tania memiliki mata yang sangat indah, cakap, dan sangat teliti. Karena kelihaian mereka, akhirnya dalam waktu hampir 45 menit mereka dapat menemukan FD milik pak kepsek. Setiap melakukan kegiatan tersebut, Tania dan Elan tidak pernah memungut biaya, namun ada saja siswa yang memberi mereka sesuatu. 
Hari berlalu, namun semakin hari orang yang meminta bantuan Tania semakin berkurang. Saat jam istirahat, Tania berjalan menuju kelas Elan yang berjarak 1 kelas dari kelasnya. Tania tertegun di depan pintu saat melihat banyak siswa yang datang ke Elan untuk meminta bantuan, sampai – sampai Elan tidak terlihat. Melihat hal itu, Tania bahagia, karena dengan begitu, ambisi Elan untuk menjadi detektif dapat menjadi kenyataan. Namun dalam hati kecilnya, dia iri dengan Elan, tapi dia sadar kemampuan matanya tidak sebagus mata Elan yang tajam, dia juga merasa sedikit cemburu karena client Elan rata - rata para gadis. Tania pergi meninggalkan kelas Elan dan menuju ke kantin sendirian.
Sudah hampir seminggu Tania dan Elan tidak ke kantin dan pulang bersama, Tania selalu sendiri karena Elan sangat sibuk dengan para clientnya. Sambil menyeruput lemon tea, Tania melamun, sampai – sampai tidak sadar kalau Elan di depannya. “Hoi! Ngelamun aje neng, kenapa? Bosen jomblo? Makanya cepet cari pacar!” ujarnya sambil tertawa, Tania memandang Elan dengan memonyongkan bibirnya. Sambil menunggu pesenan, Elan cerita  tentang client – clientnya yang alay dan caper banget sama dia, dia juga capek ngadepin sendirian. Elan memang lumayan tampan dan keren di sekolah. “Enak dong punya client banyak, cewek lagi. Bentar lagi punya pacar dong.” ujar Tania sambil mengaduk esnya menggunakan sedotan. “Ha? Ya enggaklah Tan, kan gue menjalankan tugas, jadi ya gak ada hubungan sama kehidupan pribadi. Cemburu mulu nih si eneng.” jawab Elan sambil memamerkan senyum sok kerennya. “Yee siapa yang cemburu, kan bisa aja kek gitu.” jawab Tania dengan agak canggung yang langsung memalingkan muka. Elan cekikikan mendengar alesan Tania, tak lama pesanan Elan datang, Elan langsung memakan mie ayamnya dengan lahap. Tania yang dari tadi menunduk, beralih melihat Elan sambil tersenyum kecil.
Keesokan harinya, saat pulang sekolah, Tania sedang menunggu Elan di depan gerbang sekolah. Lima menit kemudian Elan keluar dari gerbang dengan menari – nari dan memajang senyum tiga jarinya yang alay.”Kenapa lo? Kayak menang undian umroh aja.” tanya Tania sambil mulai berjalan. “Yee, gue seneng bukan gara – gara itu kale, gue seneng gara – gara gue udah terbebas dari segerombol manusia alay, yey!” ujar Elan yang terlihat sangat bahagia sambil terus menari. “Beneran? Tugas lo udah selesai? Kita bisa ke kedai es krim lagi dong?” tanya Tania penuh semangat, “Yap.” dan mereka berdua nampak sangat bahagia bahagia. Dengan wajah yang masih tersenyum puas diwajah mereka, tiba – tiba “Eh lo tau enggak Mega? Cewek populer itu lo. Dia cantik banget ya ternyata, bikin bergetar ini hati.” ujar Elan dengan ekspresi alay. Mendengar itu langkah kaki Tania terhenti, wajah yang semula penuh pelangi berubah total menjadi mendung, “He? Maksud lo?” tanya Tania, Elan juga ikut berhenti dan menjelaskan kalau tadi Mega senyum kepadanya saat meminta bantuannya dan sepertinya dia sedang jatuh cinta pada Mega. Tania yang dari tadi menatap mata Elan dalam – dalam langsung menatap ke bawah, “Lo gak seneng sahabat kece lo ini punya gebetan?” tanya Elan dengan pdnya, “Seneng lah, selamat ya.” jawab Tania dengan sebuah senyuman kecil, yang mana senyuman itu terlihat sangat berat untuk dikeluarkan.
Sesampainya di kedai es krim, Tania lebih banyak diam dan tidak napsu makan, dia sedang berfikir apa yang harus dilakukannya dan kenapa dia jadi seperti ini. “Tan, lo kenapa? Gak enak badan?” tanya Elan yang nampak khawatir, ‘dia care sama gue tapi kenapa harus Mega?’ ujar Tania dalam hati. “Oh, gak papa kok.” jawab Tania sambil melahap sesendok es krimnya.
Setelah UAS, mereka berdua membuka kegiatan mulianya lagi, kali ini mereka berdua melakukan bersama – sama lagi. Lalu saat sedang membereskan ruangan mereka, tiba – tiba terdengar suara pintu diketuk. Dan saat Tania membuka pintu, muncul sesosok wanita cantik dengan membawa dua kotak bekal. “Elannya ada?” tanya Mega, Elan yang dari tadi dibawah meja langsung berdiri dan tersenyum. “Hei, ada apa?” tanyanya sambil menghampiri Mega. Tania yang ada ditengah – tengah mereka merasa tidak dianggap, dan akhirnya memilih melanjutkan bersih – bersih. “Tan, gue tinggal dulu ya, kita mau ke kantin dulu.” ujar Elan sambil berjalan keluar dengan Mega. Melihat mereka berdua pergi, Tania ngomel – ngomel sendiri. Lalu tak selang beberapa lama, Elan kembali lagi ke ruangan, Tania nampak senang melihatnya. “Ngapain lagi?” tanya Tania sok jutek. “Ambil hp lah, kan mau selfie sama gebetan baru yang cantik dan baik.” jawab Elan sambil mencari hpnya. Tania memonyongkan bibirnya, “Daripada disini, jadi babu dan seruangan sama beruang garang, mending gue lari aja.” ejeknya sambil mengambil HP di bawah tumpukan buku. “Hei! Lo bilang apa?!” tanya Tania sambil teriak – teriak, Elan cuma tersenyum dan membalas ‘Yang bersihnya...” kemudian lari keluar. “Cinta banget ya? Sampe segitunya semangatnya.’ ujar Tania dalam hati dengan perasaan kecewa.
Tiga hari berlalu, Elan jarang berkumpul dengan Tania. Elan terlalu sibuk dengan pacar barunya, Mega, sehingga Tania lah yang harus memecahkan semua masalah anak – anak. Sepulang sekolah, Tania tidak langsung pulang, dia malah duduk di kantin sambil mengumpulkan semua data yang berhubungan dengan masalah clientnya. Dia tampak kerepotan dengan masalah –masalah itu, banyak yang harus dia selesaikan sendiri tanpa bantuan sahabatnya, Elan. Tiba – tiba Elan datang dengan membawa cappucino float kesukaan Tania dan langsung duduk didepannya. Tania mengabaikan Elan dan dia terus fokus, “Ada yang bisa gue bantu?” tanya Elan, “Gak ada, pergi sono.” jawab Tania jutek. “Kok gitu, kita kan tim jadi ya harus kerjasama.” jawab Elan polos. “Tim? Tim apa yang tega meninggalkan rekan kerjanya bekerja sendiri dan dia malah enak – enakan berduaan sama pacarnya?” tanya Tania dengan nada agak tinggi, “Maksud lo gue?” Elan berbalik tanya. “Entahlah, pikir aja sendiri!” jawab Tania sambil membereskan buku – bukunya dan bergegas pergi.  Elan mengejar Tania,”Lo kenapa sih jadi sensi kayak gini? Lo gak suka kalo gue punya pacar?” tanya Elan, Tania mengabaikannya. “Ooh jangan – jangan lo emang gak suka sama Mega kaya yang dia bilang? Dan lo gak suka kalo kita gabung jadi satu tim lagi? Lo pingin terkenal sendiri kan?”, “Hah? Kata siapa gue gak suka? Kurang ajar banget sih Mega! Pake acara ngarang cerita segala.” Jawab Tania. “Hei, jaga ya omongan lo Tan, lo egois banget sih! Lo ngiri kan kalo gue udah punya pacar dan gue punya mata yang tajam? Jadinya temen- temen lebih ngandelin gue. Gue gak pernah berfikir elo ternyata kaya gitu Tan!” bentak Elan. Tania terkejut dengan ucapan Elan barusan, “Lan, lo kok ngomong gue kayak gitu? Kok lo mbahas mata lagi sih? Cewek itu udah ngebuat elo berubah Lan!” jawab Tania , “Berubah? Gue berubah? Lo harusnya ngaca Tan siapa yang berubah, elo apa gue! Lo yang berubah, sekarang lo kekanak – kanakan, lebih sensi, dan lo gak kayak dulu lagi. Gue udah capek sama kelakuan lo, mending kita selesai aja, urus urusan detektif sendiri – sendiri dan kita udah gak usah sahabat-sahabatan lagi. Gue gak mau berantem sama Mega gara-gara lo.” Jawab Elan. “Lan, lo kok gitu. Emang gue ngapain kok bisa lo berantem gara-gara gue? Kok gue yg jadi kambing hitamnya." jawab Tania , “Gue udah capek sama sifat lo!” bentak Elan sambil pergi meninggalkan Tania sendiri yang larut dalam kesedihan.
Malam hari saat Tania belajar, tak terasa jatuh setetes air matanya di buku fisika. Dia tertunduk lesu, dia tidak menyangka bersahabatan mereka sejak kanak - kanak hancur gara – gara cewek populer itu. Saat sedang hanyut dalam kesedihan, tiba – tiba telepon rumah berdering. Tania yang berada di kamar, dipanggil keluar oleh ibunya, katanya ada yang mencarinya. Lalu Tania mengangkatnya, “Halo?” , “Halo? Ini Tania? Teman Elan Danuarta? Saya dari Rumah Sakit Setia Damai ingin menginformasikan, bahwa Elan Danuarta baru saja mengalami kecelakaan motor, dan sekarang sedang dalam perawatan intensif. Dimohon untuk menghubungi keluarga, terimakasih.”ujar petugas RS. Tania langsung menitikkan air mata setelah mengembalikan telepon ke tempat asalnya. Dia berlari menuju rumah Elan yang berada di jalan seberang, keluarganya saat terpukul mendengar hal itu dan pergi mengendarai mobil, Tania tak ketinggalan ikut dalam rombongan itu. 



BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar