Mata
Elang
“Teeetttt... teeeetttt....” bel
pulang berbunyi, semua anak langsung berhamburan keluar kelas. Terlihat
seorang anak perempuan sedang terburu – buru memasukkan semua bukunya ke dalam
tas coklatnya, mungkin ada yang sedang menunggunya. Terdengar suara langkah
kaki yang mendekat, namun terhenti di depan pintu. “Ya, buruan Tania! Lelet
banget! Nanti keburu rame tempatnya.” ujar laki – laki yang sedang berdiri di
depan pintu itu. “Iya iya bentar.” jawab Tania. Lima menit kemudian Tania
keluar dari kelas, tapi dia tidak menemukan laki-laki tadi. Tania mencari di sekitar
sekolah dan menemukan laki – laki tersebut sedang duduk sambil memakai
headphonenya di tepi lapangan basket. “Hei! Kata lo mau cepet, malah bengong
disini.” ucap Tania. “Habis lo lama banget.” jawabnya dengan ekspresi cemberut.
“Iya iya maaf, maaf ya Elaaaan...” kata Tania dengan senyum lebar.
Sesampainya di kedai es krim, mereka langsung
menuju kasir untuk memesan lalu duduk di bangku kosong yang ada di pojokan. Jika orang yang
belum mengenal mereka, mungkin akan menganggap mereka adalah pasangan kekasih,
tapi faktanya mereka itu bersahabat sejak SD. “Habis ini lo mau kemana?” tanya Elan. “Gak
kemana mana.” Jawab Tania sambil menyendok es krimnya. “Oohh, mmm... kalau gue
ajak mau enggak? Kalau ga mau juga gapapa.” tanya Elan. Mendengar itu Tania
senyum – senyum sendiri, “Mmm gimana ya? Yaudah deh gak papa, gue juga gak
ada acara. Emang mau kemana?” . Elan menunjuk taman kota. Di taman kota mereka
duduk di bangku yang berada dibawah pohon yang sangat rindang. Baru saja Elan membuka
mulut ingin mengatakan sesuatu, handphone Tania berdering. Tania langsung mengangkatnya, ternyata
telepon itu dari pak kepsek SMA mereka. Pak kepsek ingin mereka datang, karena FD
pak kepsek hilang, apalagi disitu terdapat data – data untuk UAS. Mendengar
itu, Tania mengajak Elan untuk ke sekolah lagi.
Elan dan Thania tergabung
dalam semacam tim detektif. Mereka berdua sangat senang saat diterima, hal ini karena mereka berdua
bermimpi ingin menjadi detektif dimasa yang akan datang.
Tania dan Elan adalah pasangan detektif yang serasi, mereka memiliki kelebihan
di mata mereka. Elan yang memiliki mata yang sangat tajam dan jeli dalam
menemukan sesuatu seperti Burung Elang, dia sering disebut Si Mata Elang. Sedangkan
Tania memiliki mata yang sangat indah, cakap, dan sangat teliti. Karena kelihaian mereka, akhirnya
dalam waktu hampir 45 menit mereka dapat menemukan FD milik pak kepsek. Setiap melakukan kegiatan
tersebut, Tania dan Elan tidak pernah memungut biaya, namun ada saja siswa yang
memberi mereka sesuatu.
Hari berlalu, namun semakin hari
orang yang meminta bantuan Tania semakin berkurang. Saat jam istirahat, Tania
berjalan menuju kelas Elan yang berjarak 1 kelas dari kelasnya. Tania tertegun
di depan pintu saat melihat banyak siswa yang datang ke Elan untuk meminta
bantuan, sampai – sampai Elan tidak terlihat. Melihat hal itu, Tania bahagia,
karena dengan begitu, ambisi Elan untuk menjadi detektif dapat menjadi kenyataan.
Namun dalam hati kecilnya, dia iri dengan Elan, tapi dia sadar kemampuan
matanya tidak sebagus mata Elan yang tajam, dia juga merasa sedikit cemburu karena client Elan rata - rata para gadis. Tania pergi meninggalkan kelas Elan dan menuju ke kantin sendirian.
Sudah hampir seminggu Tania dan Elan
tidak ke kantin dan pulang bersama, Tania selalu sendiri karena Elan sangat
sibuk dengan para clientnya. Sambil menyeruput lemon tea, Tania melamun, sampai
– sampai tidak sadar kalau Elan di depannya. “Hoi! Ngelamun aje neng, kenapa?
Bosen jomblo? Makanya cepet cari pacar!” ujarnya sambil tertawa, Tania
memandang Elan dengan memonyongkan bibirnya. Sambil menunggu pesenan, Elan
cerita tentang client – clientnya yang
alay dan caper banget sama dia, dia juga capek ngadepin sendirian. Elan memang
lumayan tampan dan keren di sekolah. “Enak dong punya client banyak,
cewek lagi. Bentar lagi punya pacar dong.” ujar Tania sambil mengaduk esnya menggunakan sedotan.
“Ha? Ya enggaklah Tan, kan gue menjalankan tugas, jadi ya gak ada hubungan sama
kehidupan pribadi. Cemburu mulu nih si eneng.” jawab Elan sambil memamerkan senyum
sok kerennya. “Yee siapa yang cemburu, kan bisa aja kek gitu.” jawab Tania
dengan agak canggung yang langsung memalingkan muka. Elan cekikikan mendengar
alesan Tania, tak lama pesanan Elan datang, Elan langsung memakan mie ayamnya
dengan lahap. Tania yang dari tadi menunduk, beralih melihat Elan sambil
tersenyum kecil.
Keesokan harinya, saat pulang
sekolah, Tania sedang menunggu Elan di depan gerbang sekolah. Lima menit
kemudian Elan keluar dari gerbang dengan menari – nari dan memajang senyum tiga
jarinya yang alay.”Kenapa lo? Kayak menang undian umroh aja.” tanya Tania
sambil mulai berjalan. “Yee, gue seneng bukan gara – gara itu kale, gue seneng
gara – gara gue udah terbebas dari segerombol manusia alay, yey!” ujar Elan
yang terlihat sangat bahagia sambil terus menari. “Beneran? Tugas lo udah
selesai? Kita bisa ke kedai es krim lagi dong?” tanya Tania penuh semangat,
“Yap.” dan mereka berdua nampak sangat bahagia bahagia. Dengan wajah yang masih
tersenyum puas diwajah mereka, tiba – tiba “Eh lo tau enggak Mega? Cewek
populer itu lo. Dia cantik banget ya ternyata, bikin bergetar ini hati.” ujar
Elan dengan ekspresi alay. Mendengar itu langkah kaki Tania terhenti, wajah
yang semula penuh pelangi berubah total menjadi mendung, “He? Maksud lo?” tanya
Tania, Elan juga ikut berhenti dan menjelaskan kalau tadi Mega senyum kepadanya
saat meminta bantuannya dan sepertinya dia sedang jatuh cinta pada Mega. Tania
yang dari tadi menatap mata Elan dalam – dalam langsung menatap ke bawah, “Lo
gak seneng sahabat kece lo ini punya gebetan?” tanya Elan dengan pdnya, “Seneng
lah, selamat ya.” jawab Tania dengan sebuah senyuman kecil, yang mana senyuman
itu terlihat sangat berat untuk dikeluarkan.
Sesampainya di kedai es krim, Tania
lebih banyak diam dan tidak napsu makan, dia sedang berfikir apa yang harus
dilakukannya dan kenapa dia jadi seperti ini. “Tan, lo kenapa? Gak enak badan?”
tanya Elan yang nampak khawatir, ‘dia care sama gue tapi kenapa harus Mega?’
ujar Tania dalam hati. “Oh, gak papa kok.” jawab Tania sambil melahap sesendok
es krimnya.
Setelah UAS, mereka berdua membuka
kegiatan mulianya lagi, kali ini mereka berdua melakukan bersama – sama lagi.
Lalu saat sedang membereskan ruangan mereka, tiba – tiba terdengar suara pintu
diketuk. Dan saat Tania membuka pintu, muncul sesosok wanita cantik dengan
membawa dua kotak bekal. “Elannya ada?” tanya Mega, Elan yang dari tadi dibawah
meja langsung berdiri dan tersenyum. “Hei, ada apa?” tanyanya sambil
menghampiri Mega. Tania yang ada ditengah – tengah mereka merasa tidak
dianggap, dan akhirnya memilih melanjutkan bersih – bersih. “Tan, gue tinggal
dulu ya, kita mau ke kantin dulu.” ujar Elan sambil berjalan keluar dengan
Mega. Melihat mereka berdua pergi, Tania ngomel – ngomel sendiri. Lalu tak
selang beberapa lama, Elan kembali lagi ke ruangan, Tania nampak senang melihatnya.
“Ngapain lagi?” tanya Tania sok jutek. “Ambil hp lah, kan mau selfie sama gebetan
baru yang cantik dan baik.” jawab Elan sambil mencari hpnya. Tania memonyongkan
bibirnya, “Daripada disini, jadi babu dan seruangan sama beruang garang,
mending gue lari aja.” ejeknya sambil mengambil HP di bawah tumpukan buku.
“Hei! Lo bilang apa?!” tanya Tania sambil teriak – teriak, Elan cuma tersenyum
dan membalas ‘Yang bersihnya...” kemudian lari keluar. “Cinta banget ya? Sampe
segitunya semangatnya.’ ujar Tania dalam hati dengan perasaan kecewa.
Tiga hari berlalu, Elan jarang
berkumpul dengan Tania. Elan terlalu sibuk dengan pacar barunya, Mega, sehingga
Tania lah yang harus memecahkan semua masalah anak – anak. Sepulang sekolah,
Tania tidak langsung pulang, dia malah duduk di kantin sambil mengumpulkan
semua data yang berhubungan dengan masalah clientnya. Dia tampak kerepotan
dengan masalah –masalah itu, banyak yang harus dia selesaikan sendiri tanpa
bantuan sahabatnya, Elan. Tiba – tiba Elan datang dengan membawa cappucino
float kesukaan Tania dan langsung duduk didepannya. Tania mengabaikan Elan dan
dia terus fokus, “Ada yang bisa gue bantu?” tanya Elan, “Gak ada, pergi sono.”
jawab Tania jutek. “Kok gitu, kita kan tim jadi ya harus kerjasama.” jawab Elan
polos. “Tim? Tim apa yang tega meninggalkan rekan kerjanya bekerja sendiri dan
dia malah enak – enakan berduaan sama pacarnya?” tanya Tania dengan nada agak
tinggi, “Maksud lo gue?” Elan berbalik tanya. “Entahlah, pikir aja sendiri!”
jawab Tania sambil membereskan buku – bukunya dan bergegas pergi. Elan mengejar Tania,”Lo kenapa sih jadi sensi
kayak gini? Lo gak suka kalo gue punya pacar?” tanya Elan, Tania
mengabaikannya. “Ooh jangan – jangan lo emang gak suka sama Mega kaya yang dia
bilang? Dan lo gak suka kalo kita gabung jadi satu tim lagi? Lo pingin terkenal
sendiri kan?”, “Hah? Kata siapa gue gak suka? Kurang ajar banget sih Mega! Pake
acara ngarang cerita segala.” Jawab Tania. “Hei, jaga ya omongan lo Tan, lo
egois banget sih! Lo ngiri kan kalo gue udah punya pacar dan gue punya mata yang
tajam? Jadinya temen- temen lebih ngandelin gue. Gue gak pernah berfikir elo ternyata
kaya gitu Tan!” bentak Elan. Tania terkejut dengan ucapan Elan barusan, “Lan,
lo kok ngomong gue kayak gitu? Kok lo mbahas mata lagi sih? Cewek itu udah
ngebuat elo berubah Lan!” jawab Tania , “Berubah? Gue berubah? Lo harusnya
ngaca Tan siapa yang berubah, elo apa gue! Lo yang berubah, sekarang lo kekanak
– kanakan, lebih sensi, dan lo gak kayak dulu lagi. Gue udah capek sama
kelakuan lo, mending kita selesai aja, urus urusan detektif sendiri – sendiri
dan kita udah gak usah sahabat-sahabatan lagi. Gue gak mau berantem sama Mega gara-gara lo.” Jawab Elan. “Lan, lo kok gitu. Emang gue ngapain kok bisa lo berantem gara-gara gue? Kok gue yg jadi kambing hitamnya." jawab Tania , “Gue udah capek sama sifat lo!” bentak Elan sambil pergi meninggalkan
Tania sendiri yang larut dalam kesedihan.
Malam hari saat Tania belajar, tak
terasa jatuh setetes air matanya di buku fisika. Dia tertunduk lesu, dia tidak
menyangka bersahabatan mereka sejak kanak - kanak hancur gara – gara cewek
populer itu. Saat sedang hanyut dalam kesedihan, tiba – tiba telepon rumah
berdering. Tania yang berada di kamar, dipanggil keluar oleh ibunya, katanya
ada yang mencarinya. Lalu Tania mengangkatnya, “Halo?” , “Halo? Ini Tania? Teman
Elan Danuarta? Saya dari Rumah Sakit Setia Damai ingin menginformasikan, bahwa
Elan Danuarta baru saja mengalami kecelakaan motor, dan sekarang sedang dalam
perawatan intensif. Dimohon untuk menghubungi keluarga, terimakasih.”ujar
petugas RS. Tania langsung menitikkan air mata setelah mengembalikan telepon ke
tempat asalnya. Dia berlari menuju rumah Elan yang berada di jalan seberang,
keluarganya saat terpukul mendengar hal itu dan pergi mengendarai mobil, Tania
tak ketinggalan ikut dalam rombongan itu.
BERSAMBUNG...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar