Mereka duduk dibangku taman RS
tersebut, dokterlah yang mengawali pembicaraan. “Udah berapa lama sama yang
itu?” tanya dokter, “Hehe baru kok dok, belum ada 1 tahun.” Jawab Elan senyum
senyum, “Dia cantik kan dok? Dia baik, selalu adalah buat saya.” Lanjutnya.
“Kamu yakin?” tanya dokter memastikan, “Yakinlah dok, lha wong itu
pacar saya.” Jawab Elan penuh keyakinan. “Apa kamu benar – benar yakin kalo dia
orang yang selalu ada buat kamu dan selalu njenguk kamu?” tanya dokter
penasaran, dengan sedikit kebingungan Elan menjawab “Maksud dokter?”. Dokter itu lalu menceritakan
apa yang terjadi selama Elan dirawat, “Semenjak kamu masuk rumah sakit
ini, orang yang pertama kali kami telepon adalah Tania, entah bagaimana 5 menit kemudian keluargamu datang, mungkin setelah mendengar kabarmu dia
berlari, bahkan dia masih memakai baju rumahan bahkan sendal jepitnya saja kanan dan kiri berbeda.
Saat saya memberitahukan kalau kamu kritis dan mungkin tak selamat, keluargamu
sangat sedih tak terkecuali Tania, dia bahkan berjalan menjauh dari kamarmu dan
menangis di depan ruangan saya. Dia bahkan mendatangi saya waktu itu, saya
masih ingat, dia bilang agar tolong selamatkan kamu, saya jadi ikut sedih
melihatnya, saya berjanji padanya akan melakukan yang terbaik semampu saya.
Setahu saya semenjak kamu masuk rumah sakit sampai kamu operasi dia yang selalu
ada disampingmu, dia yang selalu membawa bekal untukmu, dia yang selalu
menyemangatimu.” “Jadi selama
ini Mega yang kukenal saat buta adalah Tania? Dan Tania yang ku dengar dari
Mega saat aku bisa melihat adalah Mega?” tanya Elan sambil menundukkan kepalanya.
“Mungkin.” jawab dokter sambil tersenyum. Elan merasa bersalah kepada
sahabatnya itu, dia menyesal telah berkata yang tidak baik kepada Tania, dia
sungguh malu dengan Tania. “Jika kau belum percaya, coba tanyakan pada adikmu,
dia selalu kesini juga.” Kata dokter. Lalu Elan menghubungi adiknya, dan adiknya
membalas “Iya, yang selalu
kesitu itu kak Tania, dia baik deh, dia selalu bawain aku jajan lo kak, sampaikan terimakasih dan salamku untuknya ya kak. Ha? Kak Mega? Itu
siapa? Setauku gak ada tuh penjenguk kakak yang namanya Kak Mega, cuma Kak
Tania sama temen-temen cowonya kakak kok.” Ditutupnya hp Elan, dia
terdiam.
Setelah itu dokter kembali bertanya,
“Apakah kau juga tau siapa pendonor itu?” Elan yang sedang menundukkan
kepalanya menjawab “Mana aku tau.” “Akan ku beri tahu sebelum semuanya terlambat.” Elan tetap menundukkan kepalanya. “Apakah Tania tadi masuk
kesekolah?” “Iya” jawab Elan pelan. “Apakah dia tadi berbicara padamu?” “Iya,
tapi ku usir dia, aku sangat menyesal sekarang.” “Apakah dia bersama laki –
laki?” “Apa? Bagaimana kau tau? Apakah itu pacarnya? Dia sudah punya pacar dan
bahkan kau tau?” jawab Elan panik, “Kau cemburu padanya?” “Tidak, aku hanya
penasaran.” “Baiklah, akan akan bertanya satu kali lagi. Apa dia melihatmu saat
berbicara padamu?” tanya dokter, “Ya ampun dok yaiyalah, dia melihatku. Kenapa kau bertanya
hal hal aneh? Aku kan hanya bertanya siapa pendonor itu” jawab Elan mulai bete.
“Apa dia benar – benar menatapmu? Dan apakah benar kau ada dimatanya?” tanya
dokter itu lagi, “Dok, kalo tanya yang sungguh – sungguh dong. Iya dia lihat
dan dia menatapku, tapi mana mungkin aku tidak ada dimatanya? Pasti adalah, tapi
kenapa dokter tanya itu?” tanya Elan penasaran, dokter hanya melihat Elan dan
tetap diam, “Dok? Kenapa dok?” tanya Elan lagi, tapi dokter itu tetap diam.
“Dok, jangan – jangan Tania.........” tanya Elan mulai panik, “Kau sudah tau
kan, karna itu.” Jawab dokter lesu. “Tapi bagaimana mungkin?”
Dokter kembali bercerita, “Orang yang
kau lihat bersama Tania itu setau saya bukan pacarnya, tapi saudaranya yang berada di luar
kota, dia kesini untuk menjaga Tania kemanapun dia pergi dan sering ke rumah sakit menemani Tania check up. Dan untuk pendonor itu,
dia Tania. Seminggu sebelum kau operasi, dia mendatangiku, dia minta agar
matanya dicek apakan cocok denganmu, dan ternyata cocok. Dia minta agar matanya
didonorkan ke kamu, tapi saya bertanya “apakah kamu benar – benar siap untuk
itu? Kau yang akan buta.” Dia menjawab dengan penuh semangat, “Saya siap dok,
asalkan cita cita teman saya tercapai saya sudah cukup bahagia.” “Tapi apakah
keluargamu akan menyetujuinya?” tanyaku “Mereka terserah padaku. Kapan bisa
kita menjalankan operasinya dok?” “Saya akan cek agenda saya dulu, kalau sudah
saya akan menghubungimu. Tapi kau benar – benar yakin dan sudah kau pikir
matang – matang?” “Baik dok, sudah ku pikir setelah sekian lama kok, saya tak
bisa melihat teman saya bersedih terus setiap hari. Kalau begitu terimakasih
dok.” Tania juga sering kesini untuk bertanya tentang kabarmu dan tentang
pendonor untuk matanya, karena dulu saya penah berjanji akan mencari pendonor
untuknya. Bukannya saya mau ikut campur urusan kalian, tapi menurut saya, Tania itu sangat menyayangimu Lan, dia rela masa depannya hilang
hanya untuk mewujudkan masa depanmu. Dan kalau boleh saya beri saran, cobalah datangi dia dan minta maaflah.” Ujar dokter itu
sambil menepuk pundak Elan. Elan tenggelam mendengar cerita dokter hingga tanpa dia sadari air matanya jatuh, dan kemudian Elan meminta kepada dokter agar segera mencari pendonor untuk Tania. Dia
berterimakasih sebesar besarnya kepada
dokter yang mau meluangkan waktunya untuk Elan, dia juga meminta maaf. Setelah mengucapkan terimakasih dan minta maaf, Elan
membungkukkan badannya dan berlari meninggalkan taman menuju ke ruang informasi
menemui Mega.
Sesampainya di depan ruang informasi
ternyata Mega sudah disana, Elan yang penuh amarah berusaha tetap tenang.
Mega menghampiri Elan sambil tersenyum dan mengajak pulang, Elan membalas
senyuman itu dan berkata “Pulang sendiri sono.” Mega yang terkejut, bertanya
kenapa Elan menjadi seperti ini. “Gak ada yang salah kok di gue, lo yang salah.
Selama ini lo bohong kan soal lo njenguk gue tiap hari? Itu Tania kan? Lo juga
udah tau kan kalo pendonor itu Tania?” tanya Elan dengan nada sedikit
membentak. “Akhirnya lo tau juga, semua yang lo omong itu emang bener, dan satu lagi
hal yang belum lo ketahui, gue gak pernah suka sama lo, gue cuma
suka wajah lo doang, itupun di awal, dan pas gue mau buang lo, Tania mungut lo deh, yaudah.” jawab Mega tanpa rasa bersalah. “Dasar cewek licik, gue nyesel pacaran
sama lo dan gara – gara lo persahabaan gue hancur.” Kata Elan. “Gue yang lebih
menyesal pacaran sama lo!” sela Tania dengan jutek. “Dan gue mau putus.” Kata
Elan, “Baguslah, gue juga mau bilang gitu, BHAY.” Jawab Mega sambil pergi, begitupun Elan pergi menuju parkiran mobil.
Di sekolah Elan sedang menunggu
Tania, namun sudah seminggu Elan tak kunjung bertemu dengan Tania. Dia khawatir
dengan keadaan Tania, akhirnya dia bertanya dengan wali kelas Tania. Elan
terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan wali kelas Tania, beliau berkata kalau
Tania sudah pindah sekolah seminggu yang lalu karena di sekolah ini tidak ada
fasilitas yang cukup untuk kebutuhan Tania. Beliau juga berkata, saat Elan
pertama kali masuk, Tania dan saudaranya mengambil berkas – berkas untuk dibawa
kesekolah yang baru.
Siang harinya, Elan memberanikan diri
mendatangi rumah Tania, disana suasananya tenang dan sepi, mungkin karena kedua
orang tua Tania yang sedang bekerja. Sesampainya didepan rumah Tania, pembantu
Tania yang sedang menyapu di depan mempersilahkan Elan agar langsung masuk
saja. Baru memasuki pintu ruang tamu,
Elan melihat Tania yang sedang berjalan dari ruang keluarga ke ruang tamu
dengan menggunakan tongkatnya. Elan sangat sedih melihat temannya yang sengat
menderita karnanya. Elan terus memperhatikan Tania tanpa Tania sadari, tak sengaja dia menabrak almari di ruang tamu, akibatnya dia
terjatuh, dia juga mencari cari tongkatnya yang berada tak jauh darinya. Elan
yang melihat itu langsung mengambil tongkat seraya berkata “Tongkat lo.” “Terimakasih.” ujarnya seraya mengambil tongkat itu, “Tapi btw ini siapa ya?”
tanyanya, “Sahabat 11 tahun lo yang paling kece.” jawab Elan sambil
tersenyum, mendengar itu Tania terkejut kemudian tertawa kecil. Elan membantu
Tania berdiri dengan meraih tangannya. “Tapi lo ngapain Lan kesini?” tanya Tania, lalu Elan menceritakan
semuanya dengan mata berkaca-kaca, walaupun Tania tidak bisa melihat tapi
dia tahu bahwa sahabatnya itu sangat sedih lewat suara Elan yang bergetar. Sambil berkaca-kaca, Elan bertanya “Kenapa lo lakuin itu ke gue? Padahal gue
udah ngatain lo, jahatin lo, bahkan ngusir elo.” , dengan tersenyum Tania
menjawab “Soalnya lo sahabat gue.” . Mendengar hal itu terucap dari bibir
temannya itu, Elan menatap Tania yang sedang tersenyum dalam – dalam dan dia
merasa sangat malu pada dirinya, padahal dia sudah tidak mengakui Tania lagi tapi
Tania masih mengakuinya sebagai sahabat. Elan
juga bilang kalo mata yang sedang digunakan itu mata sahabat terbaiknya, jadi
dia tidak pantas menggunakannya. Dan dia merasa
bersalah karena dia adalah penyebab pupusnya harapan masa depan Tania.
Setelah Elan merasa cukup tenang, “
Maafin gue ya Tan. Jadi apa yang bisa gue lakuin buat ngebales jasa lo ini?”
tanya Elan “Cukup jaga mata lo itu buat gue.” Jawab Tania, “Kalo itu mau lo, gue akan jaga terus dan gue berjanji akan selalu ada
untuk sahabat gue ini kapanpun dan dimanapun entah itu saat dia butuh maupun
nggak butuh.” ujar Elan sambil memegang pundak Tania, dan Tania tersenyum.
“Kita tetep jadi sahabat lagi kan?” tanya Elan lagi,
“Teteplah.” Tania menjawab. Lalu Tania bertanya lagi, “ Tapi bagaimana dengan
pacar lo?” “Gue udah putus Tan.” jawab Elan. “Lhoh kenapa?” tanya
Tania penasaran, Elan menjawab sambil memegang tangan Tania “Soalnya gue udah punya seorang
perempuan yang selalu ada untuk gue disaat susah maupun senang, jadi buat apa gua cari perempuan lain, dan gue gamau kehilangan untuk yang kedua kalinya." mendengar itu Tania terkejut dan salah tingkah, Elan yang
melihat wajah temannya yang memerah itu tertawa dan Tania pun ikut
tertawa.
TAMAT.
[07-11-2014 sd 01-12-2015]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar