Minggu, 01 Juli 2018

Cerbung "Mata Elang" : Part 3, Maaf...

...
Mereka duduk dibangku taman RS tersebut, dokterlah yang mengawali pembicaraan. “Udah berapa lama sama yang itu?” tanya dokter, “Hehe baru kok dok, belum ada 1 tahun.” Jawab Elan senyum senyum, “Dia cantik kan dok? Dia baik, selalu adalah buat saya.” Lanjutnya. “Kamu yakin?” tanya dokter memastikan, “Yakinlah dok, lha wong itu pacar saya.” Jawab Elan penuh keyakinan. “Apa kamu benar – benar yakin kalo dia orang yang selalu ada buat kamu dan selalu njenguk kamu?” tanya dokter penasaran, dengan sedikit kebingungan Elan menjawab “Maksud dokter?”. Dokter itu lalu menceritakan apa yang terjadi selama Elan dirawat, “Semenjak kamu masuk rumah sakit ini, orang yang pertama kali kami telepon adalah Tania, entah bagaimana 5 menit kemudian keluargamu datang, mungkin setelah mendengar kabarmu dia berlari, bahkan dia masih memakai baju rumahan bahkan  sendal jepitnya saja kanan dan kiri berbeda. Saat saya memberitahukan kalau kamu kritis dan mungkin tak selamat, keluargamu sangat sedih tak terkecuali Tania, dia bahkan berjalan menjauh dari kamarmu dan menangis di depan ruangan saya. Dia bahkan mendatangi saya waktu itu, saya masih ingat, dia bilang agar tolong selamatkan kamu, saya jadi ikut sedih melihatnya, saya berjanji padanya akan melakukan yang terbaik semampu saya. Setahu saya semenjak kamu masuk rumah sakit sampai kamu operasi dia yang selalu ada disampingmu, dia yang selalu membawa bekal untukmu, dia yang selalu menyemangatimu.”  “Jadi selama ini Mega yang kukenal saat buta adalah Tania? Dan Tania yang ku dengar dari Mega saat aku bisa melihat adalah Mega?” tanya Elan sambil menundukkan kepalanya. “Mungkin.” jawab dokter sambil tersenyum. Elan merasa bersalah kepada sahabatnya itu, dia menyesal telah berkata yang tidak baik kepada Tania, dia sungguh malu dengan Tania. “Jika kau belum percaya, coba tanyakan pada adikmu, dia selalu kesini juga.” Kata dokter. Lalu Elan menghubungi adiknya, dan adiknya membalas  “Iya, yang selalu kesitu itu kak Tania, dia baik deh, dia selalu bawain aku jajan lo kak, sampaikan terimakasih dan salamku untuknya ya kak. Ha? Kak Mega? Itu siapa? Setauku gak ada tuh penjenguk kakak yang namanya Kak Mega, cuma Kak Tania sama temen-temen cowonya kakak kok.” Ditutupnya hp Elan, dia terdiam.
Setelah itu dokter kembali bertanya, “Apakah kau juga tau siapa pendonor itu?” Elan yang sedang menundukkan kepalanya menjawab “Mana aku tau.” “Akan ku beri tahu sebelum semuanya terlambat.” Elan tetap menundukkan kepalanya. “Apakah Tania tadi masuk kesekolah?” “Iya” jawab Elan pelan. “Apakah dia tadi berbicara padamu?” “Iya, tapi ku usir dia, aku sangat menyesal sekarang.” “Apakah dia bersama laki – laki?” “Apa? Bagaimana kau tau? Apakah itu pacarnya? Dia sudah punya pacar dan bahkan kau tau?” jawab Elan panik, “Kau cemburu padanya?” “Tidak, aku hanya penasaran.” “Baiklah, akan akan bertanya satu kali lagi. Apa dia melihatmu saat berbicara padamu?” tanya dokter, “Ya ampun dok yaiyalah, dia melihatku. Kenapa kau bertanya hal hal aneh? Aku kan hanya bertanya siapa pendonor itu” jawab Elan mulai bete. “Apa dia benar – benar menatapmu? Dan apakah benar kau ada dimatanya?” tanya dokter itu lagi, “Dok, kalo tanya yang sungguh – sungguh dong. Iya dia lihat dan dia menatapku, tapi mana mungkin aku tidak ada dimatanya? Pasti adalah, tapi kenapa dokter tanya itu?” tanya Elan penasaran, dokter hanya melihat Elan dan tetap diam, “Dok? Kenapa dok?” tanya Elan lagi, tapi dokter itu tetap diam. “Dok, jangan – jangan Tania.........” tanya Elan mulai panik, “Kau sudah tau kan, karna itu.” Jawab dokter lesu. “Tapi bagaimana mungkin?”
Dokter kembali bercerita, “Orang yang kau lihat bersama Tania itu setau saya bukan pacarnya, tapi saudaranya yang berada di luar kota, dia kesini untuk menjaga Tania kemanapun dia pergi dan sering ke rumah sakit menemani Tania check up. Dan untuk pendonor itu, dia Tania. Seminggu sebelum kau operasi, dia mendatangiku, dia minta agar matanya dicek apakan cocok denganmu, dan ternyata cocok. Dia minta agar matanya didonorkan ke kamu, tapi saya bertanya “apakah kamu benar – benar siap untuk itu? Kau yang akan buta.” Dia menjawab dengan penuh semangat, “Saya siap dok, asalkan cita cita teman saya tercapai saya sudah cukup bahagia.” “Tapi apakah keluargamu akan menyetujuinya?” tanyaku “Mereka terserah padaku. Kapan bisa kita menjalankan operasinya dok?” “Saya akan cek agenda saya dulu, kalau sudah saya akan menghubungimu. Tapi kau benar – benar yakin dan sudah kau pikir matang – matang?” “Baik dok, sudah ku pikir setelah sekian lama kok, saya tak bisa melihat teman saya bersedih terus setiap hari. Kalau begitu terimakasih dok.” Tania juga sering kesini untuk bertanya tentang kabarmu dan tentang pendonor untuk matanya, karena dulu saya penah berjanji akan mencari pendonor untuknya. Bukannya saya mau ikut campur urusan kalian, tapi menurut saya, Tania itu sangat menyayangimu Lan, dia rela masa depannya hilang hanya untuk mewujudkan masa depanmu. Dan kalau boleh saya beri saran, cobalah datangi dia dan minta maaflah.” Ujar dokter itu sambil menepuk pundak Elan. Elan tenggelam mendengar cerita dokter hingga tanpa dia sadari air matanya jatuh, dan kemudian Elan meminta kepada dokter agar segera mencari pendonor untuk Tania. Dia berterimakasih  sebesar besarnya kepada dokter yang mau meluangkan waktunya untuk Elan, dia juga meminta maaf. Setelah mengucapkan terimakasih dan minta maaf, Elan membungkukkan badannya dan berlari meninggalkan taman menuju ke ruang informasi menemui Mega.
Sesampainya di depan ruang informasi ternyata Mega sudah disana, Elan yang penuh amarah berusaha tetap tenang. Mega menghampiri Elan sambil tersenyum dan mengajak pulang, Elan membalas senyuman itu dan berkata “Pulang sendiri sono.” Mega yang terkejut, bertanya kenapa Elan menjadi seperti ini. “Gak ada yang salah kok di gue, lo yang salah. Selama ini lo bohong kan soal lo njenguk gue tiap hari? Itu Tania kan? Lo juga udah tau kan kalo pendonor itu Tania?” tanya Elan dengan nada sedikit membentak. “Akhirnya lo tau juga, semua yang lo omong itu emang bener, dan satu lagi hal yang belum lo ketahui, gue gak pernah suka sama lo, gue cuma suka wajah lo doang, itupun di awal, dan pas gue mau buang lo, Tania mungut lo deh, yaudah.” jawab Mega tanpa rasa bersalah. “Dasar cewek licik, gue nyesel pacaran sama lo dan gara – gara lo persahabaan gue hancur.” Kata Elan. “Gue yang lebih menyesal pacaran sama lo!” sela Tania dengan jutek. “Dan gue mau putus.” Kata Elan, “Baguslah, gue juga mau bilang gitu, BHAY.” Jawab Mega sambil pergi, begitupun Elan pergi menuju parkiran mobil.
Di sekolah Elan sedang menunggu Tania, namun sudah seminggu Elan tak kunjung bertemu dengan Tania. Dia khawatir dengan keadaan Tania, akhirnya dia bertanya dengan wali kelas Tania. Elan terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan wali kelas Tania, beliau berkata kalau Tania sudah pindah sekolah seminggu yang lalu karena di sekolah ini tidak ada fasilitas yang cukup untuk kebutuhan Tania. Beliau juga berkata, saat Elan pertama kali masuk, Tania dan saudaranya mengambil berkas – berkas untuk dibawa kesekolah yang baru. 
Siang harinya, Elan memberanikan diri mendatangi rumah Tania, disana suasananya tenang dan sepi, mungkin karena kedua orang tua Tania yang sedang bekerja. Sesampainya didepan rumah Tania, pembantu Tania yang sedang menyapu di depan mempersilahkan Elan agar langsung masuk saja. Baru memasuki pintu ruang tamu, Elan melihat Tania yang sedang berjalan dari ruang keluarga ke ruang tamu dengan menggunakan tongkatnya. Elan sangat sedih melihat temannya yang sengat menderita karnanya. Elan terus memperhatikan Tania tanpa Tania sadari, tak sengaja dia menabrak almari di ruang tamu, akibatnya dia terjatuh, dia juga mencari cari tongkatnya yang berada tak jauh darinya. Elan yang melihat itu langsung mengambil tongkat seraya berkata “Tongkat lo.”  “Terimakasih.” ujarnya seraya mengambil tongkat itu, “Tapi btw ini siapa ya?” tanyanya, “Sahabat 11 tahun lo yang paling kece.” jawab Elan sambil tersenyum, mendengar itu Tania terkejut kemudian tertawa kecil. Elan membantu Tania berdiri dengan meraih tangannya. “Tapi lo ngapain Lan kesini?” tanya Tania, lalu Elan menceritakan semuanya dengan mata berkaca-kaca, walaupun Tania tidak bisa melihat tapi dia tahu bahwa sahabatnya itu sangat sedih lewat suara Elan yang bergetar. Sambil berkaca-kaca, Elan bertanya “Kenapa lo lakuin itu ke gue? Padahal gue udah ngatain lo, jahatin lo, bahkan ngusir elo.” , dengan tersenyum Tania menjawab “Soalnya lo sahabat gue.” . Mendengar hal itu terucap dari bibir temannya itu, Elan menatap Tania yang sedang tersenyum dalam – dalam dan dia merasa sangat malu pada dirinya, padahal dia sudah tidak mengakui Tania lagi tapi Tania masih mengakuinya sebagai sahabat. Elan juga bilang kalo mata yang sedang digunakan itu mata sahabat terbaiknya, jadi dia tidak pantas menggunakannya.  Dan dia merasa bersalah karena dia adalah penyebab pupusnya harapan masa depan Tania. 

Setelah Elan merasa cukup tenang, “ Maafin gue ya Tan. Jadi apa yang bisa gue lakuin buat ngebales jasa lo ini?” tanya Elan “Cukup jaga mata lo itu buat gue.” Jawab Tania, “Kalo itu mau lo, gue akan jaga terus dan gue berjanji akan selalu ada untuk sahabat gue ini kapanpun dan dimanapun entah itu saat dia butuh maupun nggak butuh.” ujar Elan sambil memegang pundak Tania, dan Tania tersenyum. “Kita tetep jadi sahabat lagi kan?” tanya Elan lagi, “Teteplah.” Tania menjawab. Lalu Tania bertanya lagi, “ Tapi bagaimana dengan pacar lo?” “Gue udah putus Tan.” jawab Elan. “Lhoh kenapa?” tanya Tania penasaran, Elan menjawab sambil memegang tangan Tania “Soalnya gue udah punya seorang perempuan yang selalu ada untuk gue disaat susah maupun senang, jadi buat apa gua cari perempuan lain, dan gue gamau kehilangan untuk yang kedua kalinya." mendengar itu Tania terkejut dan salah tingkah, Elan yang melihat wajah temannya yang memerah itu tertawa dan Tania pun ikut tertawa.



TAMAT.



[07-11-2014  sd 01-12-2015]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar