Minggu, 01 Juli 2018

Cerpen : "Menanti Sebuah Keajaiban"


Menanti Sebuah Keajaiban

Aku masih disini, aku akan tetap menunggumu kembali, aku yakin kau akan kembali kepada kami dengan sebuah keajaiban, aku akan tetap disini sampai kau benar – benar kembali dan berjanji tidak akan meninggalkan kami.” Ucapku setiap aku berada di tempat ini. “ Dika, ayo cepat pulang sudah hampir magrib!” kata ibu, “Baik bu”. Aku bergegas meninggalkan tempat ini dan mengikuti ibu. Namaku Dika, usiaku 12 tahun, usia yang pas untuk anak kelas 6 SD. Setiap pulang sekolah biasanya anak- anak seusiaku sedang bermain bersama teman – temannya atau bahkan tidur siang. Tapi tidak untukku, aku malah menuju ke tepi pantai setelah aku berganti pakaian, makan, dan Sholat Dhuhur. Dan aku akan pukul 17.00 WIB. Kegiatan ini rutin kulakukan, bagiku tiada hari tanpa terlewati menunggu seseorang.
Kalian tahu mengapa aku kesana setiap hari? Karena aku sedang menunggu seseorang dengan membawa keajaiban, yakni ayahku. Dua belas tahun yang lalu, aku dilahirkan. Aku anak pertama dan tunggal dari pasangan Vivi dan Rian. Ayah dan ibuku sangat bahagia akan kehadiranku sampai sekarang. Tapi semua berubah saat aku kelas 2 SD, saat itu ayah di PHK oleh kantornya. Ayah beralih profesi menjadi nelayan. Memang sulit bagi ayah untuk menjadi nelayan, tapi ayah bekerja keras dan tidak putus asa demi menghidupi keluarga. Karena takun dan semangat yang akhirnya ayah berhasil juga. Dalam pekerjaanya ayah selalu memperoleh hasil tangkapan yang maksimal, hal ini juga memberi kepuasan untuk bosnya. Tiga bulan setelah ayah menjadi nelayan, ayah tak kunjung pulang dan tak ada kabar dari siapapun. Kami selalu menanti dan mencari, tapi semua itu sia – sia dan tak berguna. Usaha keluargaku sudah tidak kurang – kurang, apa yang orang katakan kami laksanakan, bahkan mengadakan upacara adat yang dipimpin oleh pawang pantai dengan berbagai sesaji. Dalam pikiran kami ayah tak akan pulang, bahkan tetangga kami mengatakan kalau ayah menikah lagi dan tinggal jauh dari kami.
Lalu keesokan harinya, salah satu tetanggaku yang juga teman ayah sebagai nelayan, mengatakan kalau kapal yang dinaiki ayah diserang badai dan terseret arus yang besar dan entah ayahku terdampar dimana atau sudah meninggal. Ibuku menangis sejadi – jadinya, aku berusaha tegar dan berusaha menerimanya walau begitu berat. Atas berita itu, keluargaku lambat laun menyerah dan melepaskan kepergian ayah dengan ikhlas karena ini sudah takdir, tapi tidak untukku. Aku selalu menanti ayahku pulang di tempat biasa kami bermain saat ayah ada waktu luang, aku akan menanti walau itu sampai tsunami menyapuku. Aku akan tetap menantinya.
Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga sudah 4 tahun aku jalani kahidupan dengan ibuku. “Dika, cepetan keluar! Busnya sudah datang, nanti keburu rame lo!” kata ibu. Aku berjalan menuju ibuku dan berpamitan, lalu berlari menuju ke bus. Di dalam bus ternyata teman – temanku sudah banyak. Bus ini tidak hanya mengangkut anak – anak sekolah, tapi dapat mengangkut penumpang umum setiap harinya. Disekolah, semua berjalan seperti  biasa. Saat pelajaan Bahasa Indonesia, semua siswa ditanya tentang cita – citanya. Kali ini giliranku maju kedepan untuk mempublikasikan cita – citaku dan sebab kenapa aku memilih profesi itu. Dengan langkah pasti aku maju kedepan, “Cita – citaku jika aku besar nanti aku ingin menjadi polisi.” “Kenapa kau ingin menjadi polisi?” tanya guruku. Aku terdiam sejenak, lalu aku menarik napas dalam – dalam “Agar aku bisa menemukan orang yang aku sayang.” Jawabku dengan mata sedikit berkaca – kaca. “Ada apa dengan kamu, Dika?” tanya guruku lagi. “Ya, dan sampai sekarang orang  yang saya tunggu – tunggu tidak akan pernah kembali.” Jawabku dengan singkat. Tanpa banyak bicara, guruku langsung mempersilahkan aku untuk kembali ke tempat duduk agar aku tidak terlalu memikirkannya. Aku berusaha tegar dengan kenyataan itu.
Bel istirahat berbunyi, aku mengambil bekalku dan menarik Rika (teman sebangkuku) keluar kelas. Setiap hari kami selalu membawa bekal, kadang – kadang kami makan bersama dengan anak – anak yang lainnya. Setelah makanan kami habis, kami pun mengobrol, bercerita, dan bercanda. “Teng...Teng...Teng...” Bunyi bel masuk telah dibunyikan. Secara serentak semua akan yang ada di luar masuk kedalam kelas dengan tertib. Dan pelajaranpun dimulai lagi.
Sepulang sekolah aku langsung berganti baju, sholat Dhuhur, makan, dan menyiapkan keperluan untuk di bawa ke pantai. Aku membawa cemilan untuk ku makan saat aku sedang bosan. Setelah semuanya siap, aku berjalan keluar. Sesampainya di depan pintu, ibu datang dan mengatakan agar aku tidak pulang sore – sore, mendengar perkataan ibu aku hanya tersenyum. Sebenarnya dulu ibu tidak setuju dengan caraku menunggu ayah, tapi aku tetap memaksa dan ibu menyerah denganku. Tapi ibu memiliki persyaratan, yakni jangan pulang malam – malam. Sepanjang perjalanan aku sangat bergembira dan terus saja bernyanyi.
Jarak rumahku dengan pantai tidak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa meter saja. Di tepi pantai, banyak penduduk yang tinggal disitu. Di tempat yang biasa aku dan ayah gunakan untuk bermain sama dengan tempat dimana aku menunggu ayah tepatnya sejuk dan rindang, karena banyak pohon kelapanya. Saat menunggu ayah, biasanya aku bermain dengan kucing milik saudaraku. Saking rutinnya aku kesana, penduduk disitu hafal dan bahkan meminjamiku tikar kecil untuk aku duduk. Saat pukul 16.00 aku pulang ke rumah.
Pada malam hari saat aku belajar, suara ketukan pintupun memecah keheningan dirumahku. Saat ibu membukakan pintu, ternyata disitu berdiri seseorang berwajah cantik. Yakni guruku ekskul, Bu Ita. Dia mengatakan kalau akan ada perlombaan menyanyi yang akan di hadiri oleh semua sekolah. Dia meminta agar aku ikut berpartisipasi dalam perlombaan tersebut. Aku bingung, tapi Bu Ita dan ibu mendesakku untuk ikut demi sekolah, akhirnya aku mau. Bu Ita juga berkata kalau latihannya setiap hari Selasa dan Kamis sepulang sekolah. Hal yang aku pikirkan pertama kali setelah Bu Ita pulang adalah bagaimana kalau ayah pulang di saat aku tidak disana? Tapi perasaan ini lagsung ku tepis dengan pikiran yang positif. Toh, latihannya tidak setiap hari kan? Jadi aku masih bisa menunggu dilain hari.
Hari ini hari Selasa, hari dimana aku harus melatih vokalku untuk dua minggu mendatang. Aku berlatih sampai pukul 15.00 .  Sebenarnya aku ingin pergi ke pantai tapi dilarang oleh ibu. Hari demi hari kulalui, sampai hari yang ditunggu semua orang telah tiba. Hari dimana aku harus membuktikan apa yang ku pelajari dan ku latih selama 3 minggu ini. Perlombaan berlangsung dengan lancar, pemenangnya juga di umumkan hari ini. Aku hanya mendapat juara 2, tapi ibu, sekolah, dan Bu Ita sangat bangga kepadaku karna aku dapat mengalahkan lebih dari dua puluh sekolah dasar di kota ini. Dalam hati aku berkata “Andai saja ayah masih ada, pasti ayah akan bangga dan bahagia.”
Kami pulang dengan kondisi yang bahagia, sepanjang perjalanan aku terus bernyanyi dan ibu memberikan tepuk tangan untukku. Dari kejauhan kami melihat seseorang yang pakaiannya kumuh dan membawa sebuah tas ransel yang kotor Dia memandang rumah, lalu kami datangi. Tapi dia belum sadar, sampai akhirnya “Ehem.” Kataku. Betapa kagetnya dia, lalu dia langsung berlari menuju kearah pantai tanpa memberi tahu siapa dia dan bagaimana wajahnya. Kami berdua terbengong seketika, tapi aku langsung masuk rumah sambil menyanyi – nyanyi kecil.
Ibu memintaku untuk membelikannya telur dan beras di toko seberang sana. Aku berjalan dengan cepat karena ibu sedang menungguku. Sesampainya ditoko aku disambut dengan ramah oleh para pekerja di toko ini, pekerja di toko ini juga cekatan maka dari itu aku sering belanja di toko ini. Saat aku membayar, terdengar suara pintu toko yang terbuka. “Ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah satu pekerja kepada orang yang baru masuk tadi. Orang tersebut diam, dan terus ditanya oleh sang pekerja ditoko, tapi orang tersebut masih saja diam. Karena penasaran dengan wajahnya, aku ingin melihatnya. Belum sempat kulihat orang itu lari terbirit birit, kami yang ada di toko bingung dengan apa yang terjadi.
Aku pulang dengan membawa dua kresek yang cukup besar dan sangat berat. Baru saja aku duduk, aku teringat kalau aku diberi tugas oleh bu guru untuk mengunjungi perpustakaan kota. Aku berpamitan kepada ibu dan langsung berlari tanpa menutup pintu rumah, aku takut kalau perpustakaannya nanti sudah tutup. Ku lihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan menunjukkan pukul 16.55 WIB, padahal perpustakaan akan tutup pukul 17.00 WIB, jadi 5 menit lagi perpustakaan akan ditutup. Karena terburu – buru aku menabrak seseorang yang akan menyebrang dan yang ku tabrak adalah bapak – bapak. Bajuku kotor terkena tanah dan tanganku agak lecet karena terkena aspal. “Maaf, maafkan saya. Saya tadi terburu – buru dan tidak melihat anda menyebrang, maafkan saya.”  Lalu orang itu melihatku dan tersenyum. “Kenapa anda tersenyum? Anda kenal saya?” tanyaku lagi. “Dika?” tanyanya saat melihatku. “Bagaimana anda tahu nama saya? Dan bukankah anda ya yang mau maling rumah saya?” tanyaku,  orang itu terkejut dan lari meninggakanku. Aku segera bangun dan melihat arlojiku, aku terkejut kalau sekarang sudah pukul 17.05 WIB. Aku langsung cepat – cepat menuju perpustakaan, dan benar saja perpustakaan itu tutup. “Semua ini gara – gara orang yang mau maling dan yang menabrakku tadi, kalau saja dia tidak membuatku bertanya – tanya.” ujarku dalam hati dengan perasaan kesal.
Ada perasaan yang mengganjal setelah bertemu dengan orang tadi. Rasanya aku tidak asing lagi dengan suara orang itu, suara yang sudah akrab bagiku, tapi suara siapa? Belum lagi aku mengingatnya, aku segera bergegas ke pantai untuk memberi tahu ayah tentang kemenanganku, walau mungkin ayah tidak akan dengar. Nampak dari kejauhan, aku melihat seseorang yang kulihat didepan rumah tadi. Dia mengotori tempat dimana biasa aku menunggu ayah dengan kacang kulit. Aku begitu marah, lalu kudatangi orang tersebut. Namun saat jarak kita dekat, orang itu berdiri dan kami pun saling berhadapan. Orang itu melepas topinya dan berkata “Rika? Kau kah itu? Cepat sekali kau tumbuh besar!” sambil berkata – kata. “Ayah? Apa benar ini ayah?” ujarku sambil menahan tangis. Dalam hatiku, ini suara ayahku suara yang sama dengan orang itu, berarti dia ayahku. Tanpa menunggu jawaban, aku peluk ayah dan ayah menyambut pelukanku. Kami berpelukan sambil dihujani air mata.
Di tempat ini kami saling bercerita, aku bercerita tentang bagaimana perjuanganku menunggu ayah. Ayah juga menceritakan kalau akibat badai tersebut ayah terdampar di tempat yang asing baginya, lalu ayah mencari cara untuk sampai disini. “Tapi kenapa ayah tadi berlari?” tanyaku, “Oh itu, ayah malu dengan tampang ayah yang seperti ini.” Jawab ayah dengan malu. Aku menceritakan kalau aku menang lomba menyanyi, ayah sangat bangga padaku. Lalu kami pulang, didepan rumah aku berteriak kepada ibu, “IBU!!!” . Ibu keluar dengan tergesa – gesa menujuku, betapa kagetnya ibu melihat ayah. Ibu langsung menitikkan air mata dan tersenyum. Kami sangat bahagia sekali, bisa berkumpul seperti dulu.
Tapi semua itu tak berlangsung lama, tiba –tiba ibu berkata “Dika ini sudah siang, ayo bangun! Nanti terlambat ke sekolah.”. Lalu kau tersadar dari tidurku dan ku lihat sekelilingku, “Ya Allah, itu hanya mimpi. Peristiwa itu tidak akan aku alami lagi.” Ujarku. Aku meratapi hal ini sambil menangis. Tapi didepanku terdapat botol berisi kertas. Kubuka dan ku baca, isinya : Anakku tersayang, jika kamu membaca surat ini berarti kau sudah tumbuh dengan besar. Ayah sangat bangga padamu atas apa yang telah kau lakukan. Semoga kau menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Ayah percaya kau bukan anak yang cengeng, jadi jangan menangis lagi ya. Kamu juga jangan menunggu ayah kembali, ayah akan kembali jika tiba saatnya, tapi mungkin bukan kali ini. Jangan mengotori tempat yang kau duduki sekarang. Ingat pergunakan waktu untuk kamu nikmati sebagai anak – anak, bukan malah duduk bengong dan menunggu. Bisakan Dika melakukannya? Dika pasti bisa! Ayah percaya itu . Ayah sayang Dika.  ( 5 – 9 – 2009)
Setelah kutata hatiku, dan kumasukkan surat kedalam botol lagi. Aku berdiri dan berkata “Apa ayah mendengarkanku dari sana? Apa benar yah?” aku berkata dengan melambaikan tanganku ke atas. Lalu aku berteriak “Ayah, I LOVE YOU!” Kemudian aku langsung berlari pulang ke rumah. Dan sejak saat itu aku sudah tidak tiap hari datang ke tempat ku menunggu. Sekarang aku sudah mengikhlaskan kepergian ayah dan menjalani kehidupan untuk mencapai cita – cita. Dan walau akhirnya ku tahu bahwa surat itu ternyata yang membuat ibu, karna sayangnya ibu kepadaku.




TAMAT



[12-03-2014]

Cerbung "Mata Elang" : Part 3, Maaf...

...
Mereka duduk dibangku taman RS tersebut, dokterlah yang mengawali pembicaraan. “Udah berapa lama sama yang itu?” tanya dokter, “Hehe baru kok dok, belum ada 1 tahun.” Jawab Elan senyum senyum, “Dia cantik kan dok? Dia baik, selalu adalah buat saya.” Lanjutnya. “Kamu yakin?” tanya dokter memastikan, “Yakinlah dok, lha wong itu pacar saya.” Jawab Elan penuh keyakinan. “Apa kamu benar – benar yakin kalo dia orang yang selalu ada buat kamu dan selalu njenguk kamu?” tanya dokter penasaran, dengan sedikit kebingungan Elan menjawab “Maksud dokter?”. Dokter itu lalu menceritakan apa yang terjadi selama Elan dirawat, “Semenjak kamu masuk rumah sakit ini, orang yang pertama kali kami telepon adalah Tania, entah bagaimana 5 menit kemudian keluargamu datang, mungkin setelah mendengar kabarmu dia berlari, bahkan dia masih memakai baju rumahan bahkan  sendal jepitnya saja kanan dan kiri berbeda. Saat saya memberitahukan kalau kamu kritis dan mungkin tak selamat, keluargamu sangat sedih tak terkecuali Tania, dia bahkan berjalan menjauh dari kamarmu dan menangis di depan ruangan saya. Dia bahkan mendatangi saya waktu itu, saya masih ingat, dia bilang agar tolong selamatkan kamu, saya jadi ikut sedih melihatnya, saya berjanji padanya akan melakukan yang terbaik semampu saya. Setahu saya semenjak kamu masuk rumah sakit sampai kamu operasi dia yang selalu ada disampingmu, dia yang selalu membawa bekal untukmu, dia yang selalu menyemangatimu.”  “Jadi selama ini Mega yang kukenal saat buta adalah Tania? Dan Tania yang ku dengar dari Mega saat aku bisa melihat adalah Mega?” tanya Elan sambil menundukkan kepalanya. “Mungkin.” jawab dokter sambil tersenyum. Elan merasa bersalah kepada sahabatnya itu, dia menyesal telah berkata yang tidak baik kepada Tania, dia sungguh malu dengan Tania. “Jika kau belum percaya, coba tanyakan pada adikmu, dia selalu kesini juga.” Kata dokter. Lalu Elan menghubungi adiknya, dan adiknya membalas  “Iya, yang selalu kesitu itu kak Tania, dia baik deh, dia selalu bawain aku jajan lo kak, sampaikan terimakasih dan salamku untuknya ya kak. Ha? Kak Mega? Itu siapa? Setauku gak ada tuh penjenguk kakak yang namanya Kak Mega, cuma Kak Tania sama temen-temen cowonya kakak kok.” Ditutupnya hp Elan, dia terdiam.
Setelah itu dokter kembali bertanya, “Apakah kau juga tau siapa pendonor itu?” Elan yang sedang menundukkan kepalanya menjawab “Mana aku tau.” “Akan ku beri tahu sebelum semuanya terlambat.” Elan tetap menundukkan kepalanya. “Apakah Tania tadi masuk kesekolah?” “Iya” jawab Elan pelan. “Apakah dia tadi berbicara padamu?” “Iya, tapi ku usir dia, aku sangat menyesal sekarang.” “Apakah dia bersama laki – laki?” “Apa? Bagaimana kau tau? Apakah itu pacarnya? Dia sudah punya pacar dan bahkan kau tau?” jawab Elan panik, “Kau cemburu padanya?” “Tidak, aku hanya penasaran.” “Baiklah, akan akan bertanya satu kali lagi. Apa dia melihatmu saat berbicara padamu?” tanya dokter, “Ya ampun dok yaiyalah, dia melihatku. Kenapa kau bertanya hal hal aneh? Aku kan hanya bertanya siapa pendonor itu” jawab Elan mulai bete. “Apa dia benar – benar menatapmu? Dan apakah benar kau ada dimatanya?” tanya dokter itu lagi, “Dok, kalo tanya yang sungguh – sungguh dong. Iya dia lihat dan dia menatapku, tapi mana mungkin aku tidak ada dimatanya? Pasti adalah, tapi kenapa dokter tanya itu?” tanya Elan penasaran, dokter hanya melihat Elan dan tetap diam, “Dok? Kenapa dok?” tanya Elan lagi, tapi dokter itu tetap diam. “Dok, jangan – jangan Tania.........” tanya Elan mulai panik, “Kau sudah tau kan, karna itu.” Jawab dokter lesu. “Tapi bagaimana mungkin?”
Dokter kembali bercerita, “Orang yang kau lihat bersama Tania itu setau saya bukan pacarnya, tapi saudaranya yang berada di luar kota, dia kesini untuk menjaga Tania kemanapun dia pergi dan sering ke rumah sakit menemani Tania check up. Dan untuk pendonor itu, dia Tania. Seminggu sebelum kau operasi, dia mendatangiku, dia minta agar matanya dicek apakan cocok denganmu, dan ternyata cocok. Dia minta agar matanya didonorkan ke kamu, tapi saya bertanya “apakah kamu benar – benar siap untuk itu? Kau yang akan buta.” Dia menjawab dengan penuh semangat, “Saya siap dok, asalkan cita cita teman saya tercapai saya sudah cukup bahagia.” “Tapi apakah keluargamu akan menyetujuinya?” tanyaku “Mereka terserah padaku. Kapan bisa kita menjalankan operasinya dok?” “Saya akan cek agenda saya dulu, kalau sudah saya akan menghubungimu. Tapi kau benar – benar yakin dan sudah kau pikir matang – matang?” “Baik dok, sudah ku pikir setelah sekian lama kok, saya tak bisa melihat teman saya bersedih terus setiap hari. Kalau begitu terimakasih dok.” Tania juga sering kesini untuk bertanya tentang kabarmu dan tentang pendonor untuk matanya, karena dulu saya penah berjanji akan mencari pendonor untuknya. Bukannya saya mau ikut campur urusan kalian, tapi menurut saya, Tania itu sangat menyayangimu Lan, dia rela masa depannya hilang hanya untuk mewujudkan masa depanmu. Dan kalau boleh saya beri saran, cobalah datangi dia dan minta maaflah.” Ujar dokter itu sambil menepuk pundak Elan. Elan tenggelam mendengar cerita dokter hingga tanpa dia sadari air matanya jatuh, dan kemudian Elan meminta kepada dokter agar segera mencari pendonor untuk Tania. Dia berterimakasih  sebesar besarnya kepada dokter yang mau meluangkan waktunya untuk Elan, dia juga meminta maaf. Setelah mengucapkan terimakasih dan minta maaf, Elan membungkukkan badannya dan berlari meninggalkan taman menuju ke ruang informasi menemui Mega.
Sesampainya di depan ruang informasi ternyata Mega sudah disana, Elan yang penuh amarah berusaha tetap tenang. Mega menghampiri Elan sambil tersenyum dan mengajak pulang, Elan membalas senyuman itu dan berkata “Pulang sendiri sono.” Mega yang terkejut, bertanya kenapa Elan menjadi seperti ini. “Gak ada yang salah kok di gue, lo yang salah. Selama ini lo bohong kan soal lo njenguk gue tiap hari? Itu Tania kan? Lo juga udah tau kan kalo pendonor itu Tania?” tanya Elan dengan nada sedikit membentak. “Akhirnya lo tau juga, semua yang lo omong itu emang bener, dan satu lagi hal yang belum lo ketahui, gue gak pernah suka sama lo, gue cuma suka wajah lo doang, itupun di awal, dan pas gue mau buang lo, Tania mungut lo deh, yaudah.” jawab Mega tanpa rasa bersalah. “Dasar cewek licik, gue nyesel pacaran sama lo dan gara – gara lo persahabaan gue hancur.” Kata Elan. “Gue yang lebih menyesal pacaran sama lo!” sela Tania dengan jutek. “Dan gue mau putus.” Kata Elan, “Baguslah, gue juga mau bilang gitu, BHAY.” Jawab Mega sambil pergi, begitupun Elan pergi menuju parkiran mobil.
Di sekolah Elan sedang menunggu Tania, namun sudah seminggu Elan tak kunjung bertemu dengan Tania. Dia khawatir dengan keadaan Tania, akhirnya dia bertanya dengan wali kelas Tania. Elan terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan wali kelas Tania, beliau berkata kalau Tania sudah pindah sekolah seminggu yang lalu karena di sekolah ini tidak ada fasilitas yang cukup untuk kebutuhan Tania. Beliau juga berkata, saat Elan pertama kali masuk, Tania dan saudaranya mengambil berkas – berkas untuk dibawa kesekolah yang baru. 
Siang harinya, Elan memberanikan diri mendatangi rumah Tania, disana suasananya tenang dan sepi, mungkin karena kedua orang tua Tania yang sedang bekerja. Sesampainya didepan rumah Tania, pembantu Tania yang sedang menyapu di depan mempersilahkan Elan agar langsung masuk saja. Baru memasuki pintu ruang tamu, Elan melihat Tania yang sedang berjalan dari ruang keluarga ke ruang tamu dengan menggunakan tongkatnya. Elan sangat sedih melihat temannya yang sengat menderita karnanya. Elan terus memperhatikan Tania tanpa Tania sadari, tak sengaja dia menabrak almari di ruang tamu, akibatnya dia terjatuh, dia juga mencari cari tongkatnya yang berada tak jauh darinya. Elan yang melihat itu langsung mengambil tongkat seraya berkata “Tongkat lo.”  “Terimakasih.” ujarnya seraya mengambil tongkat itu, “Tapi btw ini siapa ya?” tanyanya, “Sahabat 11 tahun lo yang paling kece.” jawab Elan sambil tersenyum, mendengar itu Tania terkejut kemudian tertawa kecil. Elan membantu Tania berdiri dengan meraih tangannya. “Tapi lo ngapain Lan kesini?” tanya Tania, lalu Elan menceritakan semuanya dengan mata berkaca-kaca, walaupun Tania tidak bisa melihat tapi dia tahu bahwa sahabatnya itu sangat sedih lewat suara Elan yang bergetar. Sambil berkaca-kaca, Elan bertanya “Kenapa lo lakuin itu ke gue? Padahal gue udah ngatain lo, jahatin lo, bahkan ngusir elo.” , dengan tersenyum Tania menjawab “Soalnya lo sahabat gue.” . Mendengar hal itu terucap dari bibir temannya itu, Elan menatap Tania yang sedang tersenyum dalam – dalam dan dia merasa sangat malu pada dirinya, padahal dia sudah tidak mengakui Tania lagi tapi Tania masih mengakuinya sebagai sahabat. Elan juga bilang kalo mata yang sedang digunakan itu mata sahabat terbaiknya, jadi dia tidak pantas menggunakannya.  Dan dia merasa bersalah karena dia adalah penyebab pupusnya harapan masa depan Tania. 

Setelah Elan merasa cukup tenang, “ Maafin gue ya Tan. Jadi apa yang bisa gue lakuin buat ngebales jasa lo ini?” tanya Elan “Cukup jaga mata lo itu buat gue.” Jawab Tania, “Kalo itu mau lo, gue akan jaga terus dan gue berjanji akan selalu ada untuk sahabat gue ini kapanpun dan dimanapun entah itu saat dia butuh maupun nggak butuh.” ujar Elan sambil memegang pundak Tania, dan Tania tersenyum. “Kita tetep jadi sahabat lagi kan?” tanya Elan lagi, “Teteplah.” Tania menjawab. Lalu Tania bertanya lagi, “ Tapi bagaimana dengan pacar lo?” “Gue udah putus Tan.” jawab Elan. “Lhoh kenapa?” tanya Tania penasaran, Elan menjawab sambil memegang tangan Tania “Soalnya gue udah punya seorang perempuan yang selalu ada untuk gue disaat susah maupun senang, jadi buat apa gua cari perempuan lain, dan gue gamau kehilangan untuk yang kedua kalinya." mendengar itu Tania terkejut dan salah tingkah, Elan yang melihat wajah temannya yang memerah itu tertawa dan Tania pun ikut tertawa.



TAMAT.



[07-11-2014  sd 01-12-2015]

Cerbung "Mata Elang" : Part 2, Sadarkah Kau

...

Sesampainya di sana, Elan yang berada di ruang UGD hanya dapat kami lihat melalui jendela kecil. Kata dokter yang baru saja keluar, keadaan Elan sangat kritis karena dia sudah kehilangan darah banyak, bahkan mungkin tidak dapat selamat. Hanya keajaiban dari doalah yang dapat menolongnya. Mendengar hal yang baru saja diucap dokter, ibu Elan menangis bahkan sampai pingsan, seluruh anggota keluarga Elan menangis tak terkecuali Tania. Dia menangis sejadi-jadinya namun dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Sudah 2 minggu lebih Elan belum bangun, dan selama itu pula Tania yang selalu menemaninya pagi sampai sore hari. Tepat 3 minggu, Elan membuka matanya, tapi... “Dok kok gelap ya? Ini malam? Lampunya kok gak nyala? Pemadaman ya?” ujarnya panik. Dokter langsung memeriksa kedua bola matanya, beliau berkata kalau Elan mengalami buta total dan tidak dapat disembuhkan kecuali ada pendonor yang bersedia. Elan merasa terpukul kemudian menitikkan air mata, dia ingin mati katanya. Tania yang berada disamping Elan berusaha menenangkan, Elan malah “Lo seneng kan gue buta? Jadinya lo bisa jadi satu – satunya detektif disekolah kita? Dan lo punya banyak client seperti yang lo harapin?!” kata Elan. “Gue gak kayak gitu Lan, lo salah. Gue juga sedih.” Ujarnya sambil menunduk. “Halah, boong lo! Pergi lo dari sini! Dasar muna!” bentak Elan sambil melempar barang yang ada di sekitarnya. Karena tak tega melihat Elan seperti itu, Tania pun berpamitan dan pulang kerumahnya diantar kakaknya Elan.
Keesokan harinya saat pulang sekolah, Tania langsung menuju ke Rumah sakit sambil membawa buket bunga. Dia masuk saat Elan sedang makan siang dengan ibunya, “Siapa itu? Mega ya?” tanyanya penuh senyum. Tania mengiyakan, Tania meminta kepada keluarga Elan, agar dia dianggap sebagai Mega hanya saat didepan Elan saja. Elan sangat senang jika Mega alias Tania datang berkunjung, Tania juga sangat senang karena Elan dapat tersenyum bahagia, walau sebenarnya Mega tidak pernah datang berkunjung walau cuma sekali. 2 bulan Elan hidup dalam dunia yang gelap, suatu ketika Elan curhat ke Mega alias Tania, kalau dia ingin melihat dunia yang indah ini dan melihat kecantikan Mega lagi. Tania tersenyum dan dia berkata kalau dia akan berusaha untuk terus mencari pendonor yang tepat untuk mata Elan. Saat disekolah, Tania bertemu dengan Mega dan dia menceritakan semua yang terjadi pada Elan. “Kita harus cepet – cepet cari pendonor buat Elan, kasian dia.” Ujar Tania penuh kesedihan, “Lo cari aja sendiri, gue mau have fun. Dan satu lagi, tolong jaga pacar gue sementara waktu saat dia buta ya, soalnya gue gak mau punya pacar buta. Dan kalau udah pasti gak ada pendonornya, cepet – cepet kabarin ya, biar gue cari yang lain soalnya dia udah buta dan gak keren lagi.” Ujar Mega sambil pergi meninggalkan Tania. “Jadi selama ini dia cuma ngejar wajahnya Elan doang, dia cuma maiin Elan? Dasar kurang ajar! Lan, lo harusnya lihat kayak apa pacar lo saat lo butuh dia.” Ujar Tnia dalam hati.
Setelah 1 bulan mencari pendonor, akhirnya ada juga yang mau donorin korneanya dan cocok. Sebelum dibawa di ruang operasi, Elan meminta doa dari Mega alias Tania, dia juga mengatakan dia sangat bersyukur karena sebentar akan melihat senyum manis pacarnya itu. Selama proses operasi, Tania dan keluarga Elan menunggu dengan hati berdebar, mereka berharap mata pendonor benar – benar cocok untuk Elan. Sudah 7 jam operasi berjalan, dan Elan dibawa diruang perawatan, dia harus menunggu 3 hari untuk membuka perban di matanya. Pada hari saat dibuka perbannya, orang pertama yang dicari Elan adalah Mega, dia bertanya kenapa kok ada Tania dan Mega tidak ada? Tania menjelaskan kalau Mega baru saja pulang, dia harus pergi ke rumah saudaranya yang sakit. Elan percaya, tapi Elan malah mengusir Tania karena dia tidak mau mata barunya melihat wajah Tania. Ibu Elan memarahi Elan, kemudian Tania berpamitan dan pulang diantar kakak Elan.
Dua minggu setelah bisa melihat lagi, Elan kembali kesekolah. Dia sudah bisa mulai menjalankan tugas nya seperti biasanya. Sesampainya digerbang pintu masuk, Mega yang melihat dari jauh terkejut. Dan langsung lari ke arah Elan. “Ya ampun Elan, kamu kok udah masuk? Nanti kau kecapekan lo” ujar Mega sambil tersenyum, “Enggak kok, aku harus kesekolah karena aku kangen banget sama kamu.” Ujar Elan sambil berjalan. Tak selang berapa lama, Tania datang ke sekolah bersama ibunya, dia mendengar ucapan Elan tadi dan akhirnya memilih mengambil jalur yang berbeda dengan Elan. Sepanjang perjalananan Mega bercerita kalo dia setiap hari ke Rumah Sakit, dia kangen banget, dia juga bilang kalo Tania gak pernah njenguk, main terus kerjaannya, waktu diajak njenguk malah marah – marah. Elang sangat kesal dengan Tania, dia gak nyangka sahabatnya sejahat itu. Melihat wajah Elan yang menahan amarah, Mega tersenyum licik.
Sepulang sekolah, Elan menuju ke ruangannya. Ruangan itu sangat berdebu dan bau, dia bertanya kepada tukang kebun sekolah, tukang kebon itu menjawab “ooh ruangan ini biasanya di bersihkan mbak Tania, tapi entah kenapa setelah kira-kira 2 minggu mbak Tania gak bersih2 lagi.” Elan menuju ke ruangan lagi dan mencoba membersihkan sendiri,  “Parah lo Tan, setelah gue operasi lo ngasih hadiah gue debu? Parah.” Ujar Elan dalam hati. Setelah bersih bersih, Elan menuju ke kantin. Disana dia melihat Tania dan seorang laki – laki, entah kenapa akhir akhir ini Tania sering berangkat dan pulang bersama laki – laki itu, dan itu membuat Elan sedikit cemburu, namun Elan selalu menepis perasaannya itu.
Keesokan harinya, Elan yang sedang duduk bercengkrama dengan Mega didatangi oleh Tania. Mood Elan yang tadi sangat bahagia berubah menjadi sangat kesal. “Hai, Lan. Gimana kabarnya? Selamat ya udah bisa ngelihat indahnya dunia lagi. Mmm... maaf gak bisa ngebantu nyelesaiin masalah anak – anak, gue yakin lo pasti bisa ngadepin sendiri, dibantu sama Mega juga bisa. Gue kesini juga mau bilang sesuatu, gue mau ngundurin diri jadi partnermu, gue rasa gue udah gak pantes lagi. So, have fun!” kata Tania sambil tersenyum. Elang yang memperhatikan Tania sempat terenyuh, tapi dia sinis lagi. “Oh baguslah kalo lo nyadar lo gak pantes, tenang aja kan ada Mega, Mega selalu ada kok buat gue. Lo ngeledek gue yang udah bisa ngelihat, dulu lo seneng kan? Sekarang lo pura – pura sedih biar gue iba? Contoh Mega dong Tan, dia baru kenal gue tapi dia njenguk terus, lha lo? Kemana aja? Udahlah lo gak usah munafik, jujur ajalah.” Jawab Elan menjatuhkan. Tania mendengar itu tetap berusaha tegar dan tersenyum, Tania menjawab “Gue kesini gak mau debat sama lo, gue cuma mau ngingetin, sebelum lo ngomong, lo harusnya tau sendiri kenyataannya gimana Lan, lo jangan percaya sama omongan orang. Lo harus bisa ngebuktiin sendiri siapa yang selalu ada dan ngerelain waktunya buat elo.” “Ya yang pasti Mega lah tan, gile lu.” Jawab Elan pd. “Terserahlah kalo lo percaya itu, tapi coba renungkan Lan.” Ujar Tania sambil berjalan meninggalkan mereka.
Sorenya, Elan mengantar Mega ke rumah sakit karena akan menjenguk saudaranya. Ternyata rumah sakit itu rumah sakit yang Elan tempati waktu dia kecelakaan sampai operasi. Saat melewati ruang informasi, Elan bertemu dengan dokter yang mengoperasinya dahulu. “Eh Elan, gimana matanya?” ujar pak dokter sambil menepuk pundak Elan, Elan menjawab “Baik dok, pas kok.”. Melihat Elan dan dokter berbicara, Mega pergi keruangan sendirian dan mereka berjanji akan bertemu di depan ruang informasi ini lagi. Setelah Mega tak tampak, dokter itu bertanya “Itu siapa? Pacar kamu?” “Iya dok, emang kenapa? Cantik kan.”  jawab Elan pd. “Iya cantik, loh pacarmu itu bukannya yang satunya itu to? Siapa ya namanya? Oiya Tania.” “Tania? Bukan itu dok, itu teman saya, dia gak pernah kesini dok, yang sering kesini itu Mega, pacar saya, yang tadi itu.” Jawab Elan, “Kamu bilang cewek yang tadi sering kesini? Saya gak pernah lihat tuh, yang saya tau yang selalu kesini itu ya Tania.” “Hah? Beneran dok? Jangan bercanda deh dok” “Iya, mmm.. saya bisa ceritakan apa yang mungkin belum kamu ketahui, itupun jika kamu bersedia, bagaimana? "Beneran gapapa dok?" tanya Elan, "Iya gapapa, mumpung saya break makan siang juga, tapi jangan disini, disana saja.” Ajak dokter itu sambil menunjuk sebuah bangku yang ada di taman.




BERSAMBUNG...



Sabtu, 24 Maret 2018

Cerbung "Mata Elang" : Part 1, Awalnya Begini


Mata Elang

“Teeetttt... teeeetttt....” bel pulang berbunyi, semua anak langsung berhamburan keluar kelas. Terlihat seorang anak perempuan sedang terburu – buru memasukkan semua bukunya ke dalam tas coklatnya, mungkin ada yang sedang menunggunya. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, namun terhenti di depan pintu. “Ya, buruan Tania! Lelet banget! Nanti keburu rame tempatnya.” ujar laki – laki yang sedang berdiri di depan pintu itu. “Iya iya bentar.” jawab Tania. Lima menit kemudian Tania keluar dari kelas, tapi dia tidak menemukan laki-laki tadi. Tania mencari di sekitar sekolah dan menemukan laki – laki tersebut sedang duduk sambil memakai headphonenya di tepi lapangan basket. “Hei! Kata lo mau cepet, malah bengong disini.” ucap Tania. “Habis lo lama banget.” jawabnya dengan ekspresi cemberut. “Iya iya maaf, maaf ya Elaaaan...” kata Tania dengan senyum lebar. 
Sesampainya di kedai es krim, mereka langsung menuju kasir untuk memesan lalu duduk di bangku kosong yang ada di pojokan. Jika orang yang belum mengenal mereka, mungkin akan menganggap mereka adalah pasangan kekasih, tapi faktanya mereka itu bersahabat sejak SD. “Habis ini lo mau kemana?” tanya Elan. “Gak kemana mana.” Jawab Tania sambil menyendok es krimnya. “Oohh, mmm... kalau gue ajak mau enggak? Kalau ga mau juga gapapa.” tanya Elan. Mendengar itu Tania senyum – senyum sendiri, “Mmm gimana ya? Yaudah deh gak papa, gue juga gak ada acara. Emang mau kemana?” . Elan menunjuk taman kota. Di taman kota mereka duduk di bangku yang berada dibawah pohon yang sangat rindang. Baru saja Elan membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, handphone Tania berdering. Tania langsung mengangkatnya, ternyata telepon itu dari pak kepsek SMA mereka. Pak kepsek ingin mereka datang, karena FD pak kepsek hilang, apalagi disitu terdapat data – data untuk UAS. Mendengar itu, Tania mengajak Elan untuk ke sekolah lagi. 
Elan dan Thania tergabung dalam semacam tim detektif. Mereka berdua sangat senang saat diterima, hal ini karena mereka berdua bermimpi ingin menjadi detektif dimasa yang akan datang. Tania dan Elan adalah pasangan detektif yang serasi, mereka memiliki kelebihan di mata mereka. Elan yang memiliki mata yang sangat tajam dan jeli dalam menemukan sesuatu seperti Burung Elang, dia sering disebut Si Mata Elang. Sedangkan Tania memiliki mata yang sangat indah, cakap, dan sangat teliti. Karena kelihaian mereka, akhirnya dalam waktu hampir 45 menit mereka dapat menemukan FD milik pak kepsek. Setiap melakukan kegiatan tersebut, Tania dan Elan tidak pernah memungut biaya, namun ada saja siswa yang memberi mereka sesuatu. 
Hari berlalu, namun semakin hari orang yang meminta bantuan Tania semakin berkurang. Saat jam istirahat, Tania berjalan menuju kelas Elan yang berjarak 1 kelas dari kelasnya. Tania tertegun di depan pintu saat melihat banyak siswa yang datang ke Elan untuk meminta bantuan, sampai – sampai Elan tidak terlihat. Melihat hal itu, Tania bahagia, karena dengan begitu, ambisi Elan untuk menjadi detektif dapat menjadi kenyataan. Namun dalam hati kecilnya, dia iri dengan Elan, tapi dia sadar kemampuan matanya tidak sebagus mata Elan yang tajam, dia juga merasa sedikit cemburu karena client Elan rata - rata para gadis. Tania pergi meninggalkan kelas Elan dan menuju ke kantin sendirian.
Sudah hampir seminggu Tania dan Elan tidak ke kantin dan pulang bersama, Tania selalu sendiri karena Elan sangat sibuk dengan para clientnya. Sambil menyeruput lemon tea, Tania melamun, sampai – sampai tidak sadar kalau Elan di depannya. “Hoi! Ngelamun aje neng, kenapa? Bosen jomblo? Makanya cepet cari pacar!” ujarnya sambil tertawa, Tania memandang Elan dengan memonyongkan bibirnya. Sambil menunggu pesenan, Elan cerita  tentang client – clientnya yang alay dan caper banget sama dia, dia juga capek ngadepin sendirian. Elan memang lumayan tampan dan keren di sekolah. “Enak dong punya client banyak, cewek lagi. Bentar lagi punya pacar dong.” ujar Tania sambil mengaduk esnya menggunakan sedotan. “Ha? Ya enggaklah Tan, kan gue menjalankan tugas, jadi ya gak ada hubungan sama kehidupan pribadi. Cemburu mulu nih si eneng.” jawab Elan sambil memamerkan senyum sok kerennya. “Yee siapa yang cemburu, kan bisa aja kek gitu.” jawab Tania dengan agak canggung yang langsung memalingkan muka. Elan cekikikan mendengar alesan Tania, tak lama pesanan Elan datang, Elan langsung memakan mie ayamnya dengan lahap. Tania yang dari tadi menunduk, beralih melihat Elan sambil tersenyum kecil.
Keesokan harinya, saat pulang sekolah, Tania sedang menunggu Elan di depan gerbang sekolah. Lima menit kemudian Elan keluar dari gerbang dengan menari – nari dan memajang senyum tiga jarinya yang alay.”Kenapa lo? Kayak menang undian umroh aja.” tanya Tania sambil mulai berjalan. “Yee, gue seneng bukan gara – gara itu kale, gue seneng gara – gara gue udah terbebas dari segerombol manusia alay, yey!” ujar Elan yang terlihat sangat bahagia sambil terus menari. “Beneran? Tugas lo udah selesai? Kita bisa ke kedai es krim lagi dong?” tanya Tania penuh semangat, “Yap.” dan mereka berdua nampak sangat bahagia bahagia. Dengan wajah yang masih tersenyum puas diwajah mereka, tiba – tiba “Eh lo tau enggak Mega? Cewek populer itu lo. Dia cantik banget ya ternyata, bikin bergetar ini hati.” ujar Elan dengan ekspresi alay. Mendengar itu langkah kaki Tania terhenti, wajah yang semula penuh pelangi berubah total menjadi mendung, “He? Maksud lo?” tanya Tania, Elan juga ikut berhenti dan menjelaskan kalau tadi Mega senyum kepadanya saat meminta bantuannya dan sepertinya dia sedang jatuh cinta pada Mega. Tania yang dari tadi menatap mata Elan dalam – dalam langsung menatap ke bawah, “Lo gak seneng sahabat kece lo ini punya gebetan?” tanya Elan dengan pdnya, “Seneng lah, selamat ya.” jawab Tania dengan sebuah senyuman kecil, yang mana senyuman itu terlihat sangat berat untuk dikeluarkan.
Sesampainya di kedai es krim, Tania lebih banyak diam dan tidak napsu makan, dia sedang berfikir apa yang harus dilakukannya dan kenapa dia jadi seperti ini. “Tan, lo kenapa? Gak enak badan?” tanya Elan yang nampak khawatir, ‘dia care sama gue tapi kenapa harus Mega?’ ujar Tania dalam hati. “Oh, gak papa kok.” jawab Tania sambil melahap sesendok es krimnya.
Setelah UAS, mereka berdua membuka kegiatan mulianya lagi, kali ini mereka berdua melakukan bersama – sama lagi. Lalu saat sedang membereskan ruangan mereka, tiba – tiba terdengar suara pintu diketuk. Dan saat Tania membuka pintu, muncul sesosok wanita cantik dengan membawa dua kotak bekal. “Elannya ada?” tanya Mega, Elan yang dari tadi dibawah meja langsung berdiri dan tersenyum. “Hei, ada apa?” tanyanya sambil menghampiri Mega. Tania yang ada ditengah – tengah mereka merasa tidak dianggap, dan akhirnya memilih melanjutkan bersih – bersih. “Tan, gue tinggal dulu ya, kita mau ke kantin dulu.” ujar Elan sambil berjalan keluar dengan Mega. Melihat mereka berdua pergi, Tania ngomel – ngomel sendiri. Lalu tak selang beberapa lama, Elan kembali lagi ke ruangan, Tania nampak senang melihatnya. “Ngapain lagi?” tanya Tania sok jutek. “Ambil hp lah, kan mau selfie sama gebetan baru yang cantik dan baik.” jawab Elan sambil mencari hpnya. Tania memonyongkan bibirnya, “Daripada disini, jadi babu dan seruangan sama beruang garang, mending gue lari aja.” ejeknya sambil mengambil HP di bawah tumpukan buku. “Hei! Lo bilang apa?!” tanya Tania sambil teriak – teriak, Elan cuma tersenyum dan membalas ‘Yang bersihnya...” kemudian lari keluar. “Cinta banget ya? Sampe segitunya semangatnya.’ ujar Tania dalam hati dengan perasaan kecewa.
Tiga hari berlalu, Elan jarang berkumpul dengan Tania. Elan terlalu sibuk dengan pacar barunya, Mega, sehingga Tania lah yang harus memecahkan semua masalah anak – anak. Sepulang sekolah, Tania tidak langsung pulang, dia malah duduk di kantin sambil mengumpulkan semua data yang berhubungan dengan masalah clientnya. Dia tampak kerepotan dengan masalah –masalah itu, banyak yang harus dia selesaikan sendiri tanpa bantuan sahabatnya, Elan. Tiba – tiba Elan datang dengan membawa cappucino float kesukaan Tania dan langsung duduk didepannya. Tania mengabaikan Elan dan dia terus fokus, “Ada yang bisa gue bantu?” tanya Elan, “Gak ada, pergi sono.” jawab Tania jutek. “Kok gitu, kita kan tim jadi ya harus kerjasama.” jawab Elan polos. “Tim? Tim apa yang tega meninggalkan rekan kerjanya bekerja sendiri dan dia malah enak – enakan berduaan sama pacarnya?” tanya Tania dengan nada agak tinggi, “Maksud lo gue?” Elan berbalik tanya. “Entahlah, pikir aja sendiri!” jawab Tania sambil membereskan buku – bukunya dan bergegas pergi.  Elan mengejar Tania,”Lo kenapa sih jadi sensi kayak gini? Lo gak suka kalo gue punya pacar?” tanya Elan, Tania mengabaikannya. “Ooh jangan – jangan lo emang gak suka sama Mega kaya yang dia bilang? Dan lo gak suka kalo kita gabung jadi satu tim lagi? Lo pingin terkenal sendiri kan?”, “Hah? Kata siapa gue gak suka? Kurang ajar banget sih Mega! Pake acara ngarang cerita segala.” Jawab Tania. “Hei, jaga ya omongan lo Tan, lo egois banget sih! Lo ngiri kan kalo gue udah punya pacar dan gue punya mata yang tajam? Jadinya temen- temen lebih ngandelin gue. Gue gak pernah berfikir elo ternyata kaya gitu Tan!” bentak Elan. Tania terkejut dengan ucapan Elan barusan, “Lan, lo kok ngomong gue kayak gitu? Kok lo mbahas mata lagi sih? Cewek itu udah ngebuat elo berubah Lan!” jawab Tania , “Berubah? Gue berubah? Lo harusnya ngaca Tan siapa yang berubah, elo apa gue! Lo yang berubah, sekarang lo kekanak – kanakan, lebih sensi, dan lo gak kayak dulu lagi. Gue udah capek sama kelakuan lo, mending kita selesai aja, urus urusan detektif sendiri – sendiri dan kita udah gak usah sahabat-sahabatan lagi. Gue gak mau berantem sama Mega gara-gara lo.” Jawab Elan. “Lan, lo kok gitu. Emang gue ngapain kok bisa lo berantem gara-gara gue? Kok gue yg jadi kambing hitamnya." jawab Tania , “Gue udah capek sama sifat lo!” bentak Elan sambil pergi meninggalkan Tania sendiri yang larut dalam kesedihan.
Malam hari saat Tania belajar, tak terasa jatuh setetes air matanya di buku fisika. Dia tertunduk lesu, dia tidak menyangka bersahabatan mereka sejak kanak - kanak hancur gara – gara cewek populer itu. Saat sedang hanyut dalam kesedihan, tiba – tiba telepon rumah berdering. Tania yang berada di kamar, dipanggil keluar oleh ibunya, katanya ada yang mencarinya. Lalu Tania mengangkatnya, “Halo?” , “Halo? Ini Tania? Teman Elan Danuarta? Saya dari Rumah Sakit Setia Damai ingin menginformasikan, bahwa Elan Danuarta baru saja mengalami kecelakaan motor, dan sekarang sedang dalam perawatan intensif. Dimohon untuk menghubungi keluarga, terimakasih.”ujar petugas RS. Tania langsung menitikkan air mata setelah mengembalikan telepon ke tempat asalnya. Dia berlari menuju rumah Elan yang berada di jalan seberang, keluarganya saat terpukul mendengar hal itu dan pergi mengendarai mobil, Tania tak ketinggalan ikut dalam rombongan itu. 



BERSAMBUNG...