Menanti Sebuah Keajaiban
“Aku
masih disini, aku akan tetap menunggumu kembali, aku yakin kau akan kembali
kepada kami dengan sebuah keajaiban, aku akan tetap disini sampai kau benar –
benar kembali dan berjanji tidak akan meninggalkan kami.” Ucapku setiap aku
berada di tempat ini. “ Dika, ayo cepat pulang sudah hampir magrib!” kata ibu,
“Baik bu”. Aku bergegas meninggalkan tempat ini dan mengikuti ibu. Namaku Dika,
usiaku 12 tahun, usia yang pas untuk anak kelas 6 SD. Setiap pulang sekolah biasanya
anak- anak seusiaku sedang bermain bersama teman – temannya atau bahkan tidur
siang. Tapi tidak untukku, aku malah menuju ke tepi pantai setelah aku berganti
pakaian, makan, dan Sholat Dhuhur. Dan aku akan pukul 17.00 WIB. Kegiatan ini
rutin kulakukan, bagiku tiada hari tanpa terlewati menunggu seseorang.
Kalian tahu mengapa aku kesana setiap
hari? Karena aku sedang menunggu seseorang dengan membawa keajaiban, yakni
ayahku. Dua belas tahun yang lalu, aku dilahirkan. Aku anak pertama dan tunggal
dari pasangan Vivi dan Rian. Ayah dan ibuku sangat bahagia akan kehadiranku
sampai sekarang. Tapi semua berubah saat aku kelas 2 SD, saat itu ayah di PHK
oleh kantornya. Ayah beralih profesi menjadi nelayan. Memang sulit bagi ayah
untuk menjadi nelayan, tapi ayah bekerja keras dan tidak putus asa demi
menghidupi keluarga. Karena takun dan semangat yang akhirnya ayah berhasil
juga. Dalam pekerjaanya ayah selalu memperoleh hasil tangkapan yang maksimal,
hal ini juga memberi kepuasan untuk bosnya. Tiga bulan setelah ayah menjadi
nelayan, ayah tak kunjung pulang dan tak ada kabar dari siapapun. Kami selalu
menanti dan mencari, tapi semua itu sia – sia dan tak berguna. Usaha keluargaku
sudah tidak kurang – kurang, apa yang orang katakan kami laksanakan, bahkan
mengadakan upacara adat yang dipimpin oleh pawang pantai dengan berbagai
sesaji. Dalam pikiran kami ayah tak akan pulang, bahkan tetangga kami
mengatakan kalau ayah menikah lagi dan tinggal jauh dari kami.
Lalu keesokan harinya, salah satu
tetanggaku yang juga teman ayah sebagai nelayan, mengatakan kalau kapal yang
dinaiki ayah diserang badai dan terseret arus yang besar dan entah ayahku
terdampar dimana atau sudah meninggal. Ibuku menangis sejadi – jadinya, aku
berusaha tegar dan berusaha menerimanya walau begitu berat. Atas berita itu,
keluargaku lambat laun menyerah dan melepaskan kepergian ayah dengan ikhlas
karena ini sudah takdir, tapi tidak untukku. Aku selalu menanti ayahku pulang
di tempat biasa kami bermain saat ayah ada waktu luang, aku akan menanti walau
itu sampai tsunami menyapuku. Aku akan tetap menantinya.
Hari demi hari, bulan demi bulan,
hingga sudah 4 tahun aku jalani kahidupan dengan ibuku. “Dika, cepetan keluar!
Busnya sudah datang, nanti keburu rame lo!” kata ibu. Aku berjalan menuju ibuku
dan berpamitan, lalu berlari menuju ke bus. Di dalam bus ternyata teman –
temanku sudah banyak. Bus ini tidak hanya mengangkut anak – anak sekolah, tapi
dapat mengangkut penumpang umum setiap harinya. Disekolah, semua berjalan
seperti biasa. Saat pelajaan Bahasa
Indonesia, semua siswa ditanya tentang cita – citanya. Kali ini giliranku maju
kedepan untuk mempublikasikan cita – citaku dan sebab kenapa aku memilih
profesi itu. Dengan langkah pasti aku maju kedepan, “Cita – citaku jika aku
besar nanti aku ingin menjadi polisi.” “Kenapa kau ingin menjadi polisi?” tanya
guruku. Aku terdiam sejenak, lalu aku menarik napas dalam – dalam “Agar aku
bisa menemukan orang yang aku sayang.” Jawabku dengan mata sedikit berkaca –
kaca. “Ada apa dengan kamu, Dika?” tanya guruku lagi. “Ya, dan sampai sekarang
orang yang saya tunggu – tunggu tidak
akan pernah kembali.” Jawabku dengan singkat. Tanpa banyak bicara, guruku langsung
mempersilahkan aku untuk kembali ke tempat duduk agar aku tidak terlalu
memikirkannya. Aku berusaha tegar dengan kenyataan itu.
Bel istirahat berbunyi, aku mengambil
bekalku dan menarik Rika (teman sebangkuku) keluar kelas. Setiap hari kami
selalu membawa bekal, kadang – kadang kami makan bersama dengan anak – anak
yang lainnya. Setelah makanan kami habis, kami pun mengobrol, bercerita, dan
bercanda. “Teng...Teng...Teng...” Bunyi bel masuk telah dibunyikan. Secara
serentak semua akan yang ada di luar masuk kedalam kelas dengan tertib. Dan
pelajaranpun dimulai lagi.
Sepulang sekolah aku langsung
berganti baju, sholat Dhuhur, makan, dan menyiapkan keperluan untuk di bawa ke
pantai. Aku membawa cemilan untuk ku makan saat aku sedang bosan. Setelah
semuanya siap, aku berjalan keluar. Sesampainya di depan pintu, ibu datang dan
mengatakan agar aku tidak pulang sore – sore, mendengar perkataan ibu aku hanya
tersenyum. Sebenarnya dulu ibu tidak setuju dengan caraku menunggu ayah, tapi
aku tetap memaksa dan ibu menyerah denganku. Tapi ibu memiliki persyaratan,
yakni jangan pulang malam – malam. Sepanjang perjalanan aku sangat bergembira
dan terus saja bernyanyi.
Jarak rumahku dengan pantai tidak
terlalu jauh, hanya berjarak beberapa meter saja. Di tepi pantai, banyak
penduduk yang tinggal disitu. Di tempat yang biasa aku dan ayah gunakan untuk
bermain sama dengan tempat dimana aku menunggu ayah tepatnya sejuk dan rindang,
karena banyak pohon kelapanya. Saat menunggu ayah, biasanya aku bermain dengan
kucing milik saudaraku. Saking rutinnya aku kesana, penduduk disitu hafal dan
bahkan meminjamiku tikar kecil untuk aku duduk. Saat pukul 16.00 aku pulang ke rumah.
Pada malam hari saat aku belajar,
suara ketukan pintupun memecah keheningan dirumahku. Saat ibu membukakan pintu,
ternyata disitu berdiri seseorang berwajah cantik. Yakni guruku ekskul, Bu Ita.
Dia mengatakan kalau akan ada perlombaan menyanyi yang akan di hadiri oleh
semua sekolah. Dia meminta agar aku ikut berpartisipasi dalam perlombaan
tersebut. Aku bingung, tapi Bu Ita dan ibu mendesakku untuk ikut demi sekolah,
akhirnya aku mau. Bu Ita juga berkata kalau latihannya setiap hari Selasa dan
Kamis sepulang sekolah. Hal yang aku pikirkan pertama kali setelah Bu Ita
pulang adalah bagaimana kalau ayah pulang di saat aku tidak disana? Tapi
perasaan ini lagsung ku tepis dengan pikiran yang positif. Toh, latihannya
tidak setiap hari kan? Jadi aku masih bisa menunggu dilain hari.
Hari ini hari Selasa, hari dimana aku
harus melatih vokalku untuk dua minggu mendatang. Aku berlatih sampai pukul
15.00 . Sebenarnya aku ingin pergi ke
pantai tapi dilarang oleh ibu. Hari demi hari kulalui, sampai hari yang
ditunggu semua orang telah tiba. Hari dimana aku harus membuktikan apa yang ku
pelajari dan ku latih selama 3 minggu ini. Perlombaan berlangsung dengan
lancar, pemenangnya juga di umumkan hari ini. Aku hanya mendapat juara 2, tapi
ibu, sekolah, dan Bu Ita sangat bangga kepadaku karna aku dapat mengalahkan
lebih dari dua puluh sekolah dasar di kota ini. Dalam hati aku berkata “Andai saja ayah masih ada, pasti ayah akan
bangga dan bahagia.”
Kami pulang dengan kondisi yang
bahagia, sepanjang perjalanan aku terus bernyanyi dan ibu memberikan tepuk
tangan untukku. Dari kejauhan kami melihat seseorang yang pakaiannya kumuh dan membawa
sebuah tas ransel yang kotor Dia memandang rumah, lalu kami datangi. Tapi dia
belum sadar, sampai akhirnya “Ehem.” Kataku. Betapa kagetnya dia, lalu dia
langsung berlari menuju kearah pantai tanpa memberi tahu siapa dia dan bagaimana
wajahnya. Kami berdua terbengong seketika, tapi aku langsung masuk rumah sambil
menyanyi – nyanyi kecil.
Ibu
memintaku untuk membelikannya telur dan beras di toko seberang sana. Aku berjalan
dengan cepat karena ibu sedang menungguku. Sesampainya ditoko aku disambut
dengan ramah oleh para pekerja di toko ini, pekerja di toko ini juga cekatan
maka dari itu aku sering belanja di toko ini. Saat aku membayar, terdengar
suara pintu toko yang terbuka. “Ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah satu
pekerja kepada orang yang baru masuk tadi. Orang tersebut diam, dan terus
ditanya oleh sang pekerja ditoko, tapi orang tersebut masih saja diam. Karena
penasaran dengan wajahnya, aku ingin melihatnya. Belum sempat kulihat orang itu
lari terbirit birit, kami yang ada di toko bingung dengan apa yang terjadi.
Aku
pulang dengan membawa dua kresek yang cukup besar dan sangat berat. Baru saja
aku duduk, aku teringat kalau aku diberi tugas oleh bu guru untuk mengunjungi
perpustakaan kota. Aku berpamitan kepada ibu dan langsung berlari tanpa menutup
pintu rumah, aku takut kalau perpustakaannya nanti sudah tutup. Ku lihat arloji
yang melingkar di pergelangan tangan menunjukkan pukul 16.55 WIB, padahal
perpustakaan akan tutup pukul 17.00 WIB, jadi 5 menit lagi perpustakaan akan
ditutup. Karena terburu – buru aku menabrak seseorang yang akan menyebrang dan
yang ku tabrak adalah bapak – bapak. Bajuku kotor terkena tanah dan tanganku
agak lecet karena terkena aspal. “Maaf, maafkan saya. Saya tadi terburu – buru
dan tidak melihat anda menyebrang, maafkan saya.” Lalu orang itu melihatku dan tersenyum.
“Kenapa anda tersenyum? Anda kenal saya?” tanyaku lagi. “Dika?” tanyanya saat melihatku.
“Bagaimana anda tahu nama saya? Dan bukankah anda ya yang mau maling rumah
saya?” tanyaku, orang itu terkejut dan
lari meninggakanku. Aku segera bangun dan melihat arlojiku, aku terkejut kalau
sekarang sudah pukul 17.05 WIB. Aku langsung cepat – cepat menuju perpustakaan,
dan benar saja perpustakaan itu tutup. “Semua
ini gara – gara orang yang mau maling dan yang menabrakku tadi, kalau saja dia
tidak membuatku bertanya – tanya.” ujarku dalam hati dengan perasaan kesal.
Ada perasaan yang mengganjal setelah
bertemu dengan orang tadi. Rasanya aku tidak asing lagi dengan suara orang itu,
suara yang sudah akrab bagiku, tapi suara siapa? Belum lagi aku mengingatnya,
aku segera bergegas ke pantai untuk memberi tahu ayah tentang kemenanganku,
walau mungkin ayah tidak akan dengar. Nampak dari kejauhan, aku melihat
seseorang yang kulihat didepan rumah tadi. Dia mengotori tempat dimana biasa
aku menunggu ayah dengan kacang kulit. Aku begitu marah, lalu kudatangi orang
tersebut. Namun saat jarak kita dekat, orang itu berdiri dan kami pun saling berhadapan.
Orang itu melepas topinya dan berkata “Rika? Kau kah itu? Cepat sekali kau
tumbuh besar!” sambil berkata – kata. “Ayah? Apa benar ini ayah?” ujarku sambil
menahan tangis. Dalam hatiku, ini suara ayahku suara yang sama dengan orang
itu, berarti dia ayahku. Tanpa menunggu jawaban, aku peluk ayah dan ayah
menyambut pelukanku. Kami berpelukan sambil dihujani air mata.
Di tempat ini kami saling bercerita,
aku bercerita tentang bagaimana perjuanganku menunggu ayah. Ayah juga
menceritakan kalau akibat badai tersebut ayah terdampar di tempat yang asing
baginya, lalu ayah mencari cara untuk sampai disini. “Tapi kenapa ayah tadi
berlari?” tanyaku, “Oh itu, ayah malu dengan tampang ayah yang seperti ini.”
Jawab ayah dengan malu. Aku menceritakan kalau aku menang lomba menyanyi, ayah
sangat bangga padaku. Lalu kami pulang, didepan rumah aku berteriak kepada ibu,
“IBU!!!” . Ibu keluar dengan tergesa – gesa menujuku, betapa kagetnya ibu
melihat ayah. Ibu langsung menitikkan air mata dan tersenyum. Kami sangat bahagia
sekali, bisa berkumpul seperti dulu.
Tapi semua itu tak berlangsung lama, tiba
–tiba ibu berkata “Dika ini sudah siang, ayo bangun! Nanti terlambat ke
sekolah.”. Lalu kau tersadar dari tidurku dan ku lihat sekelilingku, “Ya Allah,
itu hanya mimpi. Peristiwa itu tidak akan aku alami lagi.” Ujarku. Aku meratapi
hal ini sambil menangis. Tapi didepanku terdapat botol berisi kertas. Kubuka
dan ku baca, isinya : Anakku tersayang,
jika kamu membaca surat ini berarti kau sudah tumbuh dengan besar. Ayah sangat
bangga padamu atas apa yang telah kau lakukan. Semoga kau menjadi anak yang
berguna bagi nusa dan bangsa. Ayah percaya kau bukan anak yang cengeng, jadi
jangan menangis lagi ya. Kamu juga jangan menunggu ayah kembali, ayah akan
kembali jika tiba saatnya, tapi mungkin bukan kali ini. Jangan mengotori tempat
yang kau duduki sekarang. Ingat
pergunakan waktu untuk kamu nikmati sebagai anak – anak, bukan malah duduk
bengong dan menunggu. Bisakan Dika melakukannya? Dika pasti bisa! Ayah percaya
itu . Ayah sayang Dika. ( 5 – 9 – 2009)
Setelah kutata hatiku, dan kumasukkan
surat kedalam botol lagi. Aku berdiri dan berkata “Apa ayah mendengarkanku dari
sana? Apa benar yah?” aku berkata dengan melambaikan tanganku ke atas. Lalu aku
berteriak “Ayah, I LOVE YOU!” Kemudian aku langsung berlari pulang ke rumah.
Dan sejak saat itu aku sudah tidak tiap hari datang ke tempat ku menunggu.
Sekarang aku sudah mengikhlaskan kepergian ayah dan menjalani kehidupan untuk
mencapai cita – cita. Dan walau akhirnya ku tahu bahwa surat itu ternyata yang
membuat ibu, karna sayangnya ibu kepadaku.
TAMAT
[12-03-2014]