Minggu, 01 Juli 2018

Cerpen : "Menanti Sebuah Keajaiban"


Menanti Sebuah Keajaiban

Aku masih disini, aku akan tetap menunggumu kembali, aku yakin kau akan kembali kepada kami dengan sebuah keajaiban, aku akan tetap disini sampai kau benar – benar kembali dan berjanji tidak akan meninggalkan kami.” Ucapku setiap aku berada di tempat ini. “ Dika, ayo cepat pulang sudah hampir magrib!” kata ibu, “Baik bu”. Aku bergegas meninggalkan tempat ini dan mengikuti ibu. Namaku Dika, usiaku 12 tahun, usia yang pas untuk anak kelas 6 SD. Setiap pulang sekolah biasanya anak- anak seusiaku sedang bermain bersama teman – temannya atau bahkan tidur siang. Tapi tidak untukku, aku malah menuju ke tepi pantai setelah aku berganti pakaian, makan, dan Sholat Dhuhur. Dan aku akan pukul 17.00 WIB. Kegiatan ini rutin kulakukan, bagiku tiada hari tanpa terlewati menunggu seseorang.
Kalian tahu mengapa aku kesana setiap hari? Karena aku sedang menunggu seseorang dengan membawa keajaiban, yakni ayahku. Dua belas tahun yang lalu, aku dilahirkan. Aku anak pertama dan tunggal dari pasangan Vivi dan Rian. Ayah dan ibuku sangat bahagia akan kehadiranku sampai sekarang. Tapi semua berubah saat aku kelas 2 SD, saat itu ayah di PHK oleh kantornya. Ayah beralih profesi menjadi nelayan. Memang sulit bagi ayah untuk menjadi nelayan, tapi ayah bekerja keras dan tidak putus asa demi menghidupi keluarga. Karena takun dan semangat yang akhirnya ayah berhasil juga. Dalam pekerjaanya ayah selalu memperoleh hasil tangkapan yang maksimal, hal ini juga memberi kepuasan untuk bosnya. Tiga bulan setelah ayah menjadi nelayan, ayah tak kunjung pulang dan tak ada kabar dari siapapun. Kami selalu menanti dan mencari, tapi semua itu sia – sia dan tak berguna. Usaha keluargaku sudah tidak kurang – kurang, apa yang orang katakan kami laksanakan, bahkan mengadakan upacara adat yang dipimpin oleh pawang pantai dengan berbagai sesaji. Dalam pikiran kami ayah tak akan pulang, bahkan tetangga kami mengatakan kalau ayah menikah lagi dan tinggal jauh dari kami.
Lalu keesokan harinya, salah satu tetanggaku yang juga teman ayah sebagai nelayan, mengatakan kalau kapal yang dinaiki ayah diserang badai dan terseret arus yang besar dan entah ayahku terdampar dimana atau sudah meninggal. Ibuku menangis sejadi – jadinya, aku berusaha tegar dan berusaha menerimanya walau begitu berat. Atas berita itu, keluargaku lambat laun menyerah dan melepaskan kepergian ayah dengan ikhlas karena ini sudah takdir, tapi tidak untukku. Aku selalu menanti ayahku pulang di tempat biasa kami bermain saat ayah ada waktu luang, aku akan menanti walau itu sampai tsunami menyapuku. Aku akan tetap menantinya.
Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga sudah 4 tahun aku jalani kahidupan dengan ibuku. “Dika, cepetan keluar! Busnya sudah datang, nanti keburu rame lo!” kata ibu. Aku berjalan menuju ibuku dan berpamitan, lalu berlari menuju ke bus. Di dalam bus ternyata teman – temanku sudah banyak. Bus ini tidak hanya mengangkut anak – anak sekolah, tapi dapat mengangkut penumpang umum setiap harinya. Disekolah, semua berjalan seperti  biasa. Saat pelajaan Bahasa Indonesia, semua siswa ditanya tentang cita – citanya. Kali ini giliranku maju kedepan untuk mempublikasikan cita – citaku dan sebab kenapa aku memilih profesi itu. Dengan langkah pasti aku maju kedepan, “Cita – citaku jika aku besar nanti aku ingin menjadi polisi.” “Kenapa kau ingin menjadi polisi?” tanya guruku. Aku terdiam sejenak, lalu aku menarik napas dalam – dalam “Agar aku bisa menemukan orang yang aku sayang.” Jawabku dengan mata sedikit berkaca – kaca. “Ada apa dengan kamu, Dika?” tanya guruku lagi. “Ya, dan sampai sekarang orang  yang saya tunggu – tunggu tidak akan pernah kembali.” Jawabku dengan singkat. Tanpa banyak bicara, guruku langsung mempersilahkan aku untuk kembali ke tempat duduk agar aku tidak terlalu memikirkannya. Aku berusaha tegar dengan kenyataan itu.
Bel istirahat berbunyi, aku mengambil bekalku dan menarik Rika (teman sebangkuku) keluar kelas. Setiap hari kami selalu membawa bekal, kadang – kadang kami makan bersama dengan anak – anak yang lainnya. Setelah makanan kami habis, kami pun mengobrol, bercerita, dan bercanda. “Teng...Teng...Teng...” Bunyi bel masuk telah dibunyikan. Secara serentak semua akan yang ada di luar masuk kedalam kelas dengan tertib. Dan pelajaranpun dimulai lagi.
Sepulang sekolah aku langsung berganti baju, sholat Dhuhur, makan, dan menyiapkan keperluan untuk di bawa ke pantai. Aku membawa cemilan untuk ku makan saat aku sedang bosan. Setelah semuanya siap, aku berjalan keluar. Sesampainya di depan pintu, ibu datang dan mengatakan agar aku tidak pulang sore – sore, mendengar perkataan ibu aku hanya tersenyum. Sebenarnya dulu ibu tidak setuju dengan caraku menunggu ayah, tapi aku tetap memaksa dan ibu menyerah denganku. Tapi ibu memiliki persyaratan, yakni jangan pulang malam – malam. Sepanjang perjalanan aku sangat bergembira dan terus saja bernyanyi.
Jarak rumahku dengan pantai tidak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa meter saja. Di tepi pantai, banyak penduduk yang tinggal disitu. Di tempat yang biasa aku dan ayah gunakan untuk bermain sama dengan tempat dimana aku menunggu ayah tepatnya sejuk dan rindang, karena banyak pohon kelapanya. Saat menunggu ayah, biasanya aku bermain dengan kucing milik saudaraku. Saking rutinnya aku kesana, penduduk disitu hafal dan bahkan meminjamiku tikar kecil untuk aku duduk. Saat pukul 16.00 aku pulang ke rumah.
Pada malam hari saat aku belajar, suara ketukan pintupun memecah keheningan dirumahku. Saat ibu membukakan pintu, ternyata disitu berdiri seseorang berwajah cantik. Yakni guruku ekskul, Bu Ita. Dia mengatakan kalau akan ada perlombaan menyanyi yang akan di hadiri oleh semua sekolah. Dia meminta agar aku ikut berpartisipasi dalam perlombaan tersebut. Aku bingung, tapi Bu Ita dan ibu mendesakku untuk ikut demi sekolah, akhirnya aku mau. Bu Ita juga berkata kalau latihannya setiap hari Selasa dan Kamis sepulang sekolah. Hal yang aku pikirkan pertama kali setelah Bu Ita pulang adalah bagaimana kalau ayah pulang di saat aku tidak disana? Tapi perasaan ini lagsung ku tepis dengan pikiran yang positif. Toh, latihannya tidak setiap hari kan? Jadi aku masih bisa menunggu dilain hari.
Hari ini hari Selasa, hari dimana aku harus melatih vokalku untuk dua minggu mendatang. Aku berlatih sampai pukul 15.00 .  Sebenarnya aku ingin pergi ke pantai tapi dilarang oleh ibu. Hari demi hari kulalui, sampai hari yang ditunggu semua orang telah tiba. Hari dimana aku harus membuktikan apa yang ku pelajari dan ku latih selama 3 minggu ini. Perlombaan berlangsung dengan lancar, pemenangnya juga di umumkan hari ini. Aku hanya mendapat juara 2, tapi ibu, sekolah, dan Bu Ita sangat bangga kepadaku karna aku dapat mengalahkan lebih dari dua puluh sekolah dasar di kota ini. Dalam hati aku berkata “Andai saja ayah masih ada, pasti ayah akan bangga dan bahagia.”
Kami pulang dengan kondisi yang bahagia, sepanjang perjalanan aku terus bernyanyi dan ibu memberikan tepuk tangan untukku. Dari kejauhan kami melihat seseorang yang pakaiannya kumuh dan membawa sebuah tas ransel yang kotor Dia memandang rumah, lalu kami datangi. Tapi dia belum sadar, sampai akhirnya “Ehem.” Kataku. Betapa kagetnya dia, lalu dia langsung berlari menuju kearah pantai tanpa memberi tahu siapa dia dan bagaimana wajahnya. Kami berdua terbengong seketika, tapi aku langsung masuk rumah sambil menyanyi – nyanyi kecil.
Ibu memintaku untuk membelikannya telur dan beras di toko seberang sana. Aku berjalan dengan cepat karena ibu sedang menungguku. Sesampainya ditoko aku disambut dengan ramah oleh para pekerja di toko ini, pekerja di toko ini juga cekatan maka dari itu aku sering belanja di toko ini. Saat aku membayar, terdengar suara pintu toko yang terbuka. “Ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah satu pekerja kepada orang yang baru masuk tadi. Orang tersebut diam, dan terus ditanya oleh sang pekerja ditoko, tapi orang tersebut masih saja diam. Karena penasaran dengan wajahnya, aku ingin melihatnya. Belum sempat kulihat orang itu lari terbirit birit, kami yang ada di toko bingung dengan apa yang terjadi.
Aku pulang dengan membawa dua kresek yang cukup besar dan sangat berat. Baru saja aku duduk, aku teringat kalau aku diberi tugas oleh bu guru untuk mengunjungi perpustakaan kota. Aku berpamitan kepada ibu dan langsung berlari tanpa menutup pintu rumah, aku takut kalau perpustakaannya nanti sudah tutup. Ku lihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan menunjukkan pukul 16.55 WIB, padahal perpustakaan akan tutup pukul 17.00 WIB, jadi 5 menit lagi perpustakaan akan ditutup. Karena terburu – buru aku menabrak seseorang yang akan menyebrang dan yang ku tabrak adalah bapak – bapak. Bajuku kotor terkena tanah dan tanganku agak lecet karena terkena aspal. “Maaf, maafkan saya. Saya tadi terburu – buru dan tidak melihat anda menyebrang, maafkan saya.”  Lalu orang itu melihatku dan tersenyum. “Kenapa anda tersenyum? Anda kenal saya?” tanyaku lagi. “Dika?” tanyanya saat melihatku. “Bagaimana anda tahu nama saya? Dan bukankah anda ya yang mau maling rumah saya?” tanyaku,  orang itu terkejut dan lari meninggakanku. Aku segera bangun dan melihat arlojiku, aku terkejut kalau sekarang sudah pukul 17.05 WIB. Aku langsung cepat – cepat menuju perpustakaan, dan benar saja perpustakaan itu tutup. “Semua ini gara – gara orang yang mau maling dan yang menabrakku tadi, kalau saja dia tidak membuatku bertanya – tanya.” ujarku dalam hati dengan perasaan kesal.
Ada perasaan yang mengganjal setelah bertemu dengan orang tadi. Rasanya aku tidak asing lagi dengan suara orang itu, suara yang sudah akrab bagiku, tapi suara siapa? Belum lagi aku mengingatnya, aku segera bergegas ke pantai untuk memberi tahu ayah tentang kemenanganku, walau mungkin ayah tidak akan dengar. Nampak dari kejauhan, aku melihat seseorang yang kulihat didepan rumah tadi. Dia mengotori tempat dimana biasa aku menunggu ayah dengan kacang kulit. Aku begitu marah, lalu kudatangi orang tersebut. Namun saat jarak kita dekat, orang itu berdiri dan kami pun saling berhadapan. Orang itu melepas topinya dan berkata “Rika? Kau kah itu? Cepat sekali kau tumbuh besar!” sambil berkata – kata. “Ayah? Apa benar ini ayah?” ujarku sambil menahan tangis. Dalam hatiku, ini suara ayahku suara yang sama dengan orang itu, berarti dia ayahku. Tanpa menunggu jawaban, aku peluk ayah dan ayah menyambut pelukanku. Kami berpelukan sambil dihujani air mata.
Di tempat ini kami saling bercerita, aku bercerita tentang bagaimana perjuanganku menunggu ayah. Ayah juga menceritakan kalau akibat badai tersebut ayah terdampar di tempat yang asing baginya, lalu ayah mencari cara untuk sampai disini. “Tapi kenapa ayah tadi berlari?” tanyaku, “Oh itu, ayah malu dengan tampang ayah yang seperti ini.” Jawab ayah dengan malu. Aku menceritakan kalau aku menang lomba menyanyi, ayah sangat bangga padaku. Lalu kami pulang, didepan rumah aku berteriak kepada ibu, “IBU!!!” . Ibu keluar dengan tergesa – gesa menujuku, betapa kagetnya ibu melihat ayah. Ibu langsung menitikkan air mata dan tersenyum. Kami sangat bahagia sekali, bisa berkumpul seperti dulu.
Tapi semua itu tak berlangsung lama, tiba –tiba ibu berkata “Dika ini sudah siang, ayo bangun! Nanti terlambat ke sekolah.”. Lalu kau tersadar dari tidurku dan ku lihat sekelilingku, “Ya Allah, itu hanya mimpi. Peristiwa itu tidak akan aku alami lagi.” Ujarku. Aku meratapi hal ini sambil menangis. Tapi didepanku terdapat botol berisi kertas. Kubuka dan ku baca, isinya : Anakku tersayang, jika kamu membaca surat ini berarti kau sudah tumbuh dengan besar. Ayah sangat bangga padamu atas apa yang telah kau lakukan. Semoga kau menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Ayah percaya kau bukan anak yang cengeng, jadi jangan menangis lagi ya. Kamu juga jangan menunggu ayah kembali, ayah akan kembali jika tiba saatnya, tapi mungkin bukan kali ini. Jangan mengotori tempat yang kau duduki sekarang. Ingat pergunakan waktu untuk kamu nikmati sebagai anak – anak, bukan malah duduk bengong dan menunggu. Bisakan Dika melakukannya? Dika pasti bisa! Ayah percaya itu . Ayah sayang Dika.  ( 5 – 9 – 2009)
Setelah kutata hatiku, dan kumasukkan surat kedalam botol lagi. Aku berdiri dan berkata “Apa ayah mendengarkanku dari sana? Apa benar yah?” aku berkata dengan melambaikan tanganku ke atas. Lalu aku berteriak “Ayah, I LOVE YOU!” Kemudian aku langsung berlari pulang ke rumah. Dan sejak saat itu aku sudah tidak tiap hari datang ke tempat ku menunggu. Sekarang aku sudah mengikhlaskan kepergian ayah dan menjalani kehidupan untuk mencapai cita – cita. Dan walau akhirnya ku tahu bahwa surat itu ternyata yang membuat ibu, karna sayangnya ibu kepadaku.




TAMAT



[12-03-2014]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar